Global

Trump Semakin Berubah-ubah soal Iran, Rusak Norma Waktu Presiden

Advertisement

WASHINGTON DC – Gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan di tengah memanasnya ketegangan dengan Iran. Pernyataan-pernyataan Trump terkait kebijakan terhadap Iran dinilai tidak konsisten dan membingungkan, bahkan kerap kali harus diklarifikasi oleh Gedung Putih.

Ketidakpastian ini terlihat jelas dalam beberapa hari terakhir. Pada Minggu (19/4/2026), Trump menyatakan kepada ABC bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak akan memimpin delegasi AS dalam perundingan putaran kedua dengan Iran di Pakistan. Namun, pernyataan tersebut segera dibantah oleh Gedung Putih.

Kekeliruan kembali terjadi pada Senin (20/4/2026). Trump kepada New York Post mengatakan para perunding sedang dalam perjalanan ke Islamabad. Faktanya, hingga Selasa siang (21/4/2026), Vance masih berada di Washington untuk serangkaian pertemuan.

Kerusakan Norma Kepresidenan

Profesor studi komunikasi dari University of Kansas, Robert Rowland, menilai kebiasaan Trump berkomunikasi langsung melalui media sosial dan panggilan telepon pribadi dengan jurnalis telah merusak norma kepresidenan. “Waktu seorang presiden sangat berharga dan dia harus selalu menggunakan komunikasi yang aman,” ujar Rowland.

Rowland membandingkan dengan era Barack Obama pada 2009, yang sangat menjaga keamanan komunikasinya dengan berdebat dengan Secret Service demi mempertahankan ponsel BlackBerry miliknya. “Trump justru sebaliknya. Dia membuat segalanya menjadi sangat partisan,” tambah Rowland.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Trump sering mengunggah pesan di Truth Social tanpa konsultasi atau pemberitahuan kepada siapa pun. Unggahannya kerap kali menggunakan huruf kapital, tanda seru, hingga ancaman yang dicampur dengan bahasa kasar.

Advertisement

Bahkan, lingkaran dalam Trump dikabarkan sempat merahasiakan informasi terkait operasi penyelamatan seorang perwira Angkatan Udara AS di Iran. Hal ini dilakukan karena kekhawatiran sifat “tidak sabaran” Trump dapat mengganggu operasi yang berisiko tinggi tersebut.

Kontroversi dan Obsesi Pribadi

Impulsivitas Trump tidak hanya sebatas komunikasi, tetapi juga merambah ke ranah protokol diplomatik dan upacara militer. Pada Maret, ia memicu kemarahan lintas partai karena mengenakan topi bertuliskan “USA” saat upacara repatriasi tentara yang tewas di Timur Tengah. Topi serupa diketahui dijual di situs web The Trump Organization.

Selain itu, Trump sempat menuai kontroversi di kalangan umat Kristiani AS setelah membagikan gambar buatan AI yang menampilkan dirinya sebagai Yesus, didampingi tentara dan jet tempur. Unggahan tersebut kemudian dihapus.

Di tengah pembicaraan serius mengenai konflik Iran, Trump kerap mengalihkan topik ke hal-hal yang dianggap tidak relevan. Dalam wawancara dengan CNBC, Selasa, ia mengklaim bisa memenangi Perang Vietnam jika berkuasa saat itu. Ia juga sempat melontarkan kritik terhadap renovasi gedung markas Federal Reserve karena ketidaksukaannya pada ketua Jerome Powell.

Alih-alih fokus pada strategi militer, Trump justru lebih sering membanggakan proyek pembangunan ruang dansa baru di Gedung Putih. Menurut laporan Washington Post, Trump rata-rata menyebutkan proyek tersebut setiap tiga hari sekali sejak awal tahun.

Advertisement