Universitas Tarumanagara (Untar) kembali menggelar forum ilmiah internasional, kali ini bertajuk International Conference on Economics, Business, Social and Humanities (ICEBSH) 2026, yang dijadwalkan berlangsung di Busan, Korea Selatan, pada April 2026. Acara ini akan dilaksanakan bersamaan dengan International Conference on Applied Science, Technology, and Engineering (ICASTE) 2026.
Konferensi tersebut mengusung tema besar “People, Planet and Technology: Building Resilient Futures for Sustainable Development”. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Untar dengan Kun Shan University, serta Pusan National University yang bertindak sebagai tuan rumah.
Rektor Untar, Prof. Dr. Ir. Amad Sudiro, M.T., M.T.I., menjelaskan bahwa tema yang diangkat memiliki makna mendalam, yakni menekankan krusialnya peran manusia, kelestarian lingkungan, dan kemajuan teknologi dalam membangun masa depan yang tangguh demi pembangunan berkelanjutan.
Empat Pilar Keberlanjutan Dibahas Mendalam
Untuk mengupas tema tersebut lebih lanjut, ICEBSH 2026 menghadirkan empat pembicara utama yang akan memaparkan pandangan mereka mengenai isu keberlanjutan dari berbagai sudut pandang.
- Riela Provi Drianda akan membahas bagaimana transformasi pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendekatan yang relevan bagi generasi muda saat ini.
- Linda Lin-chin Lin akan menggarisbawahi pentingnya keseimbangan harmonis antara manusia, lingkungan, dan teknologi dalam upaya pembangunan yang berkesinambungan.
- Selanjutnya, Kuldeep K. Saxena akan mengangkat isu genting terkait limbah elektronik dan mikroplastik yang menjadi tantangan global serius.
- Sementara itu, Ju-chul Jeong akan fokus pada signifikansi pembangunan kota yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga adaptif terhadap perubahan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untar, Prof. Dr. Hetty Karunia Tunjungsari, S.E., M.M., M.Ak., CPA., CMA., menegaskan bahwa konferensi ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik semata.
“Tetapi juga menghasilkan pengetahuan yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan publik, praktik industri, serta mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Prof. Hetty.
Lebih lanjut, Prof. Hetty menambahkan bahwa kolaborasi yang terjalin antar negara dan berbagai disiplin ilmu menjadi kunci esensial dalam menjawab kompleksitas tantangan global yang dihadapi saat ini. Menurutnya, forum konferensi semacam ini berperan sebagai katalisator penting untuk memicu terciptanya dialog yang konstruktif, riset yang berdampak nyata, serta kolaborasi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.






