Universitas Brawijaya (UB) kembali menghadirkan inovasi di bidang perawatan diri melalui pengembangan sunscreen berbasis ekstrak rambut jagung. Produk ini, yang dikenal sebagai Hi-To-Go Sun Protector, merupakan bagian dari lini BOUMI, merek perawatan diri untuk anak usia 4 hingga 14 tahun, hasil kolaborasi UB dengan PT Cedefindo di bawah naungan Martha Tilaar Group. Inovasi ini sekaligus menjadi terobosan dalam pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai tinggi dan ramah lingkungan.
Pengembangan sunscreen ini diprakarsai oleh Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya, dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB. Ia menuturkan bahwa gagasan ini muncul dari keinginan untuk mengoptimalkan potensi limbah yang belum banyak dimanfaatkan.
“Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” ujar Dr. Rosalina, dilansir dari laman UB, Rabu (22/4/2026).
Produk Vegan dari Limbah Petani Jawa
Secara formulasi, Hi-To-Go Sun Protector memadukan ekstrak rambut jagung (zea mays silk extract) dengan bahan alami lainnya, termasuk minyak atsiri dan lavandula hybrida oil. Produk ini diklaim memiliki kandungan SPF 50 PA++ yang efektif melindungi kulit anak dari paparan sinar UVA dan UVB.
Selain memberikan perlindungan dari sinar matahari, sunscreen ini juga berfungsi menjaga kelembapan kulit, memberikan sensasi nyaman berkat aroma alami lavender, serta aman digunakan untuk kulit anak yang sensitif dan aktif. Bentuknya yang berupa spray dirancang agar praktis dan mudah digunakan oleh anak-anak.
Dr. Rosalina, yang akrab disapa Oca, menambahkan bahwa penelitian terhadap bahan aktif lokal tidak hanya berhenti pada produk sunscreen. Berbagai komponen pangan lokal dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen perlindungan sinar UV.
“Pada dasarnya, banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji memiliki potensi anti UV, sehingga ke depan bisa dikembangkan lebih luas, termasuk dikombinasikan dengan bahan lain untuk meningkatkan efektivitasnya,” ungkapnya.
Masuk Tahap Produksi Massal
Produk inovatif ini kini telah memasuki tahap produksi massal melalui kerja sama dengan PT Cedefindo. Dalam proses produksinya, bahan baku rambut jagung diperoleh melalui kemitraan dengan para petani, terutama di wilayah Pulau Jawa.
“Kami bekerja sama dengan petani untuk memanfaatkan limbah rambut jagung, tapi tidak menutup kemungkinan dapat bekerja sama dengan industri lain yang juga menghasilkan limbah rambut jagung,” tambah Dr. Rosalina.
Keunggulan lain dari produk ini terletak pada efisiensi biaya produksi dan aspek keberlanjutan lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan utama, produk ini mampu menekan biaya operasional sekaligus menghadirkan inovasi berbasis sumber daya lokal.
“Keunggulan kami adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi, serta membuka peluang kolaborasi dengan industri berbasis bahan lokal Indonesia,” jelas Dr. Rosalina.
Diarahkan pada Inovasi Lain
Ke depannya, pengembangan produk berbasis rambut jagung juga diarahkan pada inovasi lain. Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk potensi pemanfaatan rambut jagung sebagai minuman herbal hingga agen anti kanker, meskipun masih dalam tahap awal.
“Kami juga sedang mengkaji kemungkinan penggunaan rambut jagung secara langsung, misalnya untuk teh herbal, namun ini masih dalam tahap riset lebih lanjut,” pungkasnya.
Melalui inovasi Hi-To-Go Sun Protector dalam lini BOUMI, UB tidak hanya memperkuat hilirisasi hasil riset, tetapi juga menunjukkan peran aktif perguruan tinggi dalam menciptakan produk inovatif yang berdampak bagi masyarakat, lingkungan, dan industri berbasis potensi lokal.






