JAKARTA, KOMPAS.com — Gejolak pasar pupuk global sepanjang tahun 2026 telah menyingkap ketimpangan yang kian melebar antarnegara. Di saat banyak negara bergulat dengan lonjakan harga dan gangguan pasokan, Tiongkok justru menunjukkan stabilitas yang relatif. Kunci ketahanan ini terletak pada struktur produksi pupuknya, khususnya pupuk urea, yang mengandalkan batu bara alih-alih gas alam, praktik umum di banyak negara lain.
Pendekatan yang berbeda ini menjadi bantalan pelindung bagi sektor pertanian domestik Tiongkok dari tekanan eksternal, terutama ketika konflik di Timur Tengah mengganggu rantai pasok global.
Ketergantungan pada Batu Bara Jadi Keunggulan Strategis
Mayoritas negara produsen pupuk nitrogen mengandalkan gas alam sebagai bahan baku utama. Namun, Tiongkok menempuh jalur yang berbeda. Dikutip dari Reuters, Rabu (22/4/2026), sekitar 78 persen produksi urea di Tiongkok berasal dari batu bara, sumber energi yang melimpah di dalam negeri. Struktur ini membuat Tiongkok tidak terlalu bergantung pada impor energi, khususnya gas alam, yang menjadi komoditas paling terdampak dalam konflik global.
Sebaliknya, negara-negara yang bergantung pada gas terpaksa menghadapi kenaikan biaya produksi seiring lonjakan harga energi. Ketika konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial bagi perdagangan pupuk global, harga pupuk urea internasional melonjak tajam, bahkan naik sekitar 70 persen akibat gangguan pasokan tersebut.
Namun, di dalam negeri Tiongkok, harga tetap relatif stabil. Hal ini terjadi karena produksi domestik tidak terganggu oleh dinamika pasar energi global, berbeda dengan produsen berbasis gas yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga.
Produksi Melimpah, Pasokan Domestik Terjaga
Ketahanan Tiongkok tidak hanya ditopang oleh sumber energi, tetapi juga oleh kapasitas produksi yang besar. Pada tahun 2026 ini, produksi pupuk urea Tiongkok diproyeksikan mencapai rekor 76,5 juta ton. Angka tersebut bahkan melampaui kebutuhan domestik, dengan surplus sekitar 10,5 juta ton.
Surplus ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengelola pasokan secara fleksibel, termasuk menahan ekspor guna menjaga stabilitas harga dalam negeri. Kebijakan ini bukan hal baru; Tiongkok telah lama menggunakan pembatasan ekspor sebagai instrumen untuk menjaga ketahanan pangan. Dalam kondisi pasar global yang bergejolak, kebijakan tersebut kembali diperkuat.
Tiongkok bahkan menunda keputusan ekspor pasca-musim semi hingga Mei 2026 mendatang untuk memastikan kondisi domestik tetap terkendali. Selain itu, pemerintah juga mengandalkan cadangan pupuk nasional. Dalam situasi darurat, seperti saat pasokan global terganggu, cadangan ini dilepas lebih cepat untuk menstabilkan pasar. Pelepasan stok bahkan dilakukan setidaknya 15 hari lebih awal dari jadwal normal guna mengantisipasi lonjakan permintaan selama musim tanam.
Dampak Konflik di Timur Tengah terhadap Pasar Pupuk
Gangguan utama dalam pasar pupuk global saat ini berasal dari konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia, mengalami gangguan signifikan. Akibatnya, distribusi pupuk berbasis nitrogen, termasuk urea, terhambat. Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan industri pupuk global pada gas alam. Ketika pasokan energi terganggu, produksi pupuk pun ikut terdampak.
Harga pupuk urea tercatat naik sekitar 80 dollar AS per ton sejak konflik dimulai. Sejumlah negara mulai merespons dengan menyesuaikan strategi pertanian. Di Amerika Serikat (AS) dan Australia, petani beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk, seperti kedelai dan barley. India, yang sangat bergantung pada impor pupuk dari Timur Tengah, bahkan meningkatkan subsidi pupuk sebesar 11,6 persen untuk melindungi petaninya.
Namun, langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa banyak negara berada dalam posisi reaktif, bukan preventif.
Kebijakan Proteksi Tiongkok Memperketat Pasar Global
Di tengah ketahanan domestiknya, Tiongkok juga menerapkan kebijakan yang berdampak luas terhadap pasar global. Pemerintah membatasi ekspor pupuk untuk menjaga pasokan dalam negeri. Langkah ini secara signifikan mengurangi ketersediaan pupuk di pasar internasional. Tiongkok sebelumnya merupakan eksportir pupuk besar dengan nilai lebih dari 13 miliar dollar AS.
Namun, pembatasan baru diperkirakan dapat mengurangi ekspor hingga 75 persen atau sekitar 40 juta ton. Kebijakan ini memperparah kelangkaan global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor dari Tiongkok. Negara seperti Brasil, Indonesia, Thailand, Malaysia, hingga India menghadapi risiko kekurangan pasokan. Permintaan dari negara-negara tersebut tidak selalu dapat dipenuhi karena prioritas Tiongkok tetap pada stabilitas domestik.
India, misalnya, telah meminta Tiongkok untuk melepas pasokan urea, namun belum tentu mendapat respons positif jika bertentangan dengan kebijakan internal Tiongkok.
Perbedaan Respons Antarnegara
Ketahanan Tiongkok menciptakan kontras yang tajam dengan kondisi di negara lain. Sementara Tiongkok dapat mempertahankan produksi dan harga, negara lain harus beradaptasi dengan cepat terhadap tekanan pasar. Beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan perubahan struktural dalam produksi pupuk.
India, misalnya, mulai mengeksplorasi gasifikasi batu bara untuk memproduksi urea sebagai alternatif dari ketergantungan pada gas alam. Langkah ini menunjukkan bahwa model Tiongkok mulai dilihat sebagai referensi, meski memiliki tantangan tersendiri, termasuk aspek lingkungan. Di sisi lain, negara-negara Barat menghadapi kendala dalam meningkatkan produksi karena keterbatasan pasokan energi dan kebijakan transisi energi. Eropa, misalnya, mengalami penurunan produksi pupuk setelah kehilangan pasokan gas dari Rusia.
Implikasi terhadap Pola Pertanian Global
Perbedaan akses terhadap pupuk juga mulai memengaruhi pola pertanian global. Petani di negara dengan biaya pupuk tinggi cenderung mengurangi penggunaan atau beralih ke tanaman dengan kebutuhan nutrisi lebih rendah. Sebaliknya, petani di Tiongkok tetap dapat menanam komoditas dengan kebutuhan pupuk tinggi, seperti jagung. Hal ini memberikan keuntungan kompetitif dalam produksi pangan.
Di tengah tekanan global, Tiongkok mampu mempertahankan produktivitas tanpa harus mengorbankan margin keuntungan petani. Sementara itu, di banyak negara lain, kenaikan biaya pupuk berpotensi menekan produksi dan meningkatkan harga pangan.
Strategi Ketahanan yang Terintegrasi
Ketahanan Tiongkok tidak hanya berasal dari satu faktor, melainkan kombinasi dari beberapa kebijakan dan kondisi struktural. Pertama, penggunaan batu bara sebagai bahan baku utama memberikan kemandirian energi. Kedua, kapasitas produksi yang besar memastikan pasokan tetap mencukupi. Ketiga, kebijakan ekspor yang fleksibel memungkinkan pemerintah mengontrol pasar domestik.
Keempat, cadangan pupuk nasional menjadi instrumen tambahan untuk meredam gejolak. Kombinasi ini menciptakan sistem yang relatif tahan terhadap guncangan eksternal. Dalam konteks krisis global, pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana kebijakan industri dan energi dapat berperan langsung dalam menjaga stabilitas sektor pertanian.
Namun di saat yang sama, langkah-langkah tersebut juga membawa dampak terhadap pasar global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor pupuk. Ketika Tiongkok memilih untuk memprioritaskan pasar domestik, tekanan pada pasar internasional pun semakin meningkat. Situasi ini memperlihatkan bagaimana satu negara dapat memengaruhi keseimbangan global, khususnya dalam komoditas strategis seperti pupuk.






