WASHINGTON – Peluang kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran masih di ujung tanduk menjelang berakhirnya masa gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (22/4/2026). Upaya diplomasi yang dimediasi Pakistan menghadapi sejumlah hambatan krusial yang menjadi titik sengketa utama kedua negara.
Perbedaan pandangan yang tajam dalam beberapa isu fundamental ini menjadi tantangan terbesar dalam negosiasi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan regional.
Lima Poin Sengketa Utama dalam Negosiasi AS-Iran
Gencatan senjata antara AS dan Iran, yang diumumkan pada 7 April dan mulai berlaku 8 April, akan berakhir pekan ini. Meskipun Pakistan telah menyiapkan pertemuan di Islamabad dengan pengamanan ketat, belum ada kepastian apakah kedua belah pihak akan benar-benar duduk satu meja.
Dengan perbedaan yang masih sangat lebar di berbagai isu, mencapai kesepakatan dalam waktu singkat dinilai sangat menantang.
1. Program Nuklir Iran
Salah satu isu paling mendasar dalam negosiasi ini adalah program nuklir Iran. Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menuntut Iran untuk menghentikan sepenuhnya program nuklirnya. Namun, Teheran menolak tuntutan tersebut, menyatakan bahwa pembatasan hanya bisa bersifat sementara, bukan permanen.
2. Stok Uranium yang Diperkaya
AS juga meminta agar sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya tinggi milik Iran diserahkan atau berada di bawah pengawasan Washington. Permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Iran, yang menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara mereka.
3. Sengketa di Selat Hormuz
Ketegangan juga membayangi jalur pelayaran krusial Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia. Iran bersikeras akan tetap membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut hingga AS mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Sebaliknya, Presiden Trump menegaskan bahwa blokade tidak akan dicabut sebelum kesepakatan tercapai.
4. Aset yang Dibekukan dan Sanksi
Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran menuntut pencabutan sanksi dan pencairan aset mereka yang dibekukan senilai sekitar 20 miliar dollar AS. Bagi Teheran, langkah ini merupakan syarat penting untuk memulihkan kondisi ekonomi yang terdampak sanksi berkepanjangan.
5. Tuntutan Kompensasi Perang
Iran juga mengajukan tuntutan kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh serangan militer AS dan Israel, dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar 270 miliar dollar AS. Tuntutan ini menjadi salah satu poin paling sulit untuk mencapai kesepakatan dalam negosiasi.
Negosiasi Masih Penuh Ketidakpastian
Di tengah kebuntuan tersebut, Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk menghadiri perundingan lanjutan dengan AS di Islamabad, Pakistan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh AS masih menjadi hambatan utama.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menyampaikan sikap kerasnya, menolak negosiasi di bawah tekanan. Di sisi lain, Presiden Trump tetap mendorong kesepakatan cepat untuk menekan dampak konflik terhadap harga energi global.
“Kami tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.” – Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.






