JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berpotensi terjadi di masa mendatang menimbulkan kekhawatiran bagi sektor transportasi darat. Ketua Angkutan Pariwisata DPP Organda, Anthony Steven Hambali, menyatakan bahwa elektrifikasi kendaraan umum yang digadang-gadang pemerintah sebagai solusi jangka panjang, belum menjadi prioritas utama saat ini. Fokus utama Organda adalah memastikan ketersediaan pasokan BBM untuk angkutan umum.
Anthony Steven Hambali menekankan pentingnya prioritas pasokan BBM untuk angkutan umum sebagai langkah jangka pendek yang mendesak. “Jadi usulan kami dari Organda mungkin untuk regulator dan juga teman-teman untuk jangka pendek, yang pertama adalah prioritaskan suplai BBM untuk angkutan umum untuk saat ini,” ujarnya kepada Kompas.com dalam sebuah forum diskusi beberapa waktu lalu.
Menurut Anthony, dengan memprioritaskan pasokan BBM untuk angkutan umum, diharapkan masyarakat akan lebih memilih menggunakan transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi. Selain itu, ia juga menyarankan agar subsidi BBM disalurkan secara lebih tepat sasaran, langsung kepada operator angkutan.
Penyesuaian Tarif Tiket Bus Mendesak
Lebih lanjut, Anthony Steven Hambali menyatakan bahwa Organda justru mendorong adanya penyesuaian tarif tiket bus yang mengikuti fluktuasi harga BBM. “Sebenarnya, kami malah mendorong ada penyesuaian harga BBM. Kenapa? Terakhir BBM kami naik (tiket bus) tuh 2023. Dan hingga saat ini kami tidak bisa naik tarif. Padahal barang-barang inflasi semua,” keluhnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun harga berbagai komponen operasional bus seperti oli dan ban telah mengalami kenaikan, tarif tiket bus antarkota antarprovinsi (AKAP) terpaksa dipertahankan untuk menjaga jumlah penumpang. “Kemudian juga penyesuaian tarif sesuai dengan formula BBM,” tambahnya.
Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Selain penyesuaian tarif, Organda juga mengusulkan sejumlah solusi jangka pendek lainnya, termasuk subsidi tarif tol dan stimulus biaya impor untuk suku cadang bus. Untuk rencana jangka panjang, program konversi kendaraan ke moda hybrid atau listrik didukung, namun dengan catatan penting.
“Karena dari dulu kita sudah merintis layanan ini untuk masyarakat, sehingga jangan dimatikan bisnis kami. Dan tidak membebani operator, kemudian berbasis kesiapan ekosistem,” tegas Anthony. Organda mendukung elektrifikasi dengan prinsip utama bahwa bisnis transportasi harus tetap sehat dan tidak membebani operator, serta mempertimbangkan kesiapan ekosistem pendukungnya.






