Advertorial

Cerita Pengguna, Denza D9 Tawarkan Standar Baru MPV Premium

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Lebih dari setahun sejak diluncurkan pada Januari 2025, Denza D9 sukses memantapkan diri sebagai pemain utama di segmen high multi-purpose vehicle (MPV) premium listrik di Indonesia. Dengan angka penjualan yang telah melampaui 8.000 unit, model ini bahkan dijuluki “raja baru” di kelasnya, sekaligus menetapkan tolok ukur baru bagi MPV premium bertenaga listrik.

Namun, di balik angka penjualan dan klaim tersebut, pengalaman nyata para penggunanya menjadi cerminan paling jujur dari apa yang ditawarkan Denza D9 selama setahun terakhir.

Keputusan Berlandaskan Keyakinan

Kwok DK, seorang wiraswastawan asal Sunter, Jakarta Utara, termasuk dalam jajaran pembeli pertama Denza D9 di Indonesia. Ia melakukan pemesanan pada ajang Indonesia Mobility Show (IMS) 2025 di Kemayoran. Keputusan ini tidak diambil tanpa pertimbangan matang.

Kwok yang sering berbisnis dengan mitra di Tiongkok, mengaku sudah lama mengenal ekosistem kendaraan BYD dan Denza di negara tersebut. Ketika merek ini akhirnya hadir di Indonesia, ia tidak memerlukan waktu lama untuk merasa yakin.

“Saya sudah tahu persis kualitasnya BYD dan Denza ini karena saya memang bisnis dengan China sudah lama,” ujar Kwok saat dihubungi Kompas.com, Rabu (15/6/2026). 

Setelah lebih dari satu tahun dan menempuh jarak 25.000 kilometer, Kwok menyatakan bahwa ekspektasinya tidak hanya terpenuhi, tetapi justru terlampaui.

“Dengan uang yang saya keluarkan, dengan Denza D9 ini saya mendapatkan pengalaman kepemilikan yang melebihi ekspektasi saya,” katanya.

Senada, Andry Infinity, seorang pengusaha asal Kelapa Gading, Jakarta Utara, juga menjatuhkan pilihannya pada Denza D9. Sebelumnya, ia telah menggunakan MPV premium berbahan bakar bensin. Bagi Andry, proposisi nilai yang ditawarkan Denza D9 sangat sulit untuk diabaikan.

“Dengan harga di bawah Rp 1 miliar, saya bisa mendapatkan kenyamanan layaknya mobil senilai Rp 1,8 miliar. Kurang lebih saya bisa irit Rp 800 juta lah,” ungkap Andry.

Desain Elegan dan Kabin Senyap

Sejak awal kehadirannya, Denza D9 dirancang bukan sekadar sebagai kendaraan, melainkan sebagai sebuah pengalaman mobilitas premium berbasis listrik. Pendekatan desainnya yang menyeluruh menghadirkan keseimbangan antara estetika, kenyamanan, dan efisiensi.

Pada sisi eksterior, identitas visual Denza D9 terpancar dari garis bodi Waistline to Meteor Track yang mengalir tegas. Bagian depannya didominasi oleh Motion Front Grill berfilosofi π-Motion yang tampil minimalis namun tetap berkarakter. Sementara itu, bagian belakang dilengkapi dengan Arrow Tail Light yang memiliki desain senada, memperkuat kesan elegan dari setiap sudut.

Salah satu elemen yang paling menonjol adalah panoramic roof seluas 1,1 meter persegi. Fitur ini tidak hanya menciptakan kesan kabin yang lebih lapang, tetapi juga mampu menyaring hingga 99 persen paparan sinar ultraviolet, memungkinkan cahaya alami masuk tanpa mengurangi kenyamanan penumpang.

Kualitas kabin Denza D9 menjadi salah satu aspek yang paling konsisten disebut oleh kedua pengguna. Kendaraan ini dilengkapi dengan material kulit premium pada seluruh kursi, fitur kursi pijat, sandaran kaki elektrik, serta meja lipat multifungsi di baris kedua. Semua elemen ini dirancang untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih personal.

Dari sisi teknologi, Denza D9 mengintegrasikan DiLink Intelligent Interactive System melalui layar head unit ultra-high-definition berukuran 15,6 inci. Panel instrumen digital 10,25 inci menyajikan informasi kendaraan secara komprehensif, sementara layar LCD pada sandaran tangan kursi baris kedua memungkinkan penumpang mengontrol berbagai fitur, mulai dari posisi kursi, pengaturan suhu kabin, hingga pencahayaan dengan mudah dan intuitif.

Mengenai kesenyapan kabin, Kwok memberikan nilai 8,5 dari 10. Ia menilai kombinasi kaca ganda di seluruh sisi dan ban Michelin menjadi kunci utama kekedapan suara yang dirasakannya.

“Untuk telepon, sangat puas. Tidak ada hambatan dari luar, walaupun berada di jalanan yang cukup bising di Jakarta,” ujarnya.

Kwok bahkan kerap memanfaatkan kabin Denza D9 sebagai ruang kerja bergerak. Meja lipat di baris kedua yang kokoh memungkinkannya nyaman menggelar laptop 17 inci untuk melakukan rapat daring. Fitur zero gravity seat dan AC yang mengalir dari sisi kursi menjadikan sela waktu antar-pertemuan terasa seperti istirahat di ruang keluarga.

Andry turut mengamini kualitas kesenyapan kabin tersebut. “Senyap, enggak ada keluhan. Pas lagi telepon atau rapat itu kedap, enggak ada masalah,” katanya.

Advertisement

Efisiensi yang Terasa di Kantong

Di luar aspek kenyamanan, efisiensi biaya operasional yang jauh berbeda dibandingkan MPV premium berbahan bakar bensin menjadi poin yang paling menonjol dari pengalaman kedua pengguna.

Denza D9 dibekali dengan Blade Battery berkapasitas 103,36 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 600 kilometer (berdasarkan standar NEDC). Teknologi pengisian cepat hingga 166 kW memungkinkan penambahan jarak hingga 150 kilometer hanya dalam waktu 10 menit. Akselerasi 0–100 kilometer per jam dalam 9,5 detik juga menghadirkan respons berkendara yang halus namun tetap bertenaga saat dibutuhkan.

Kwok, yang kerap melakukan perjalanan ke Bandung dan pernah membawa Denza D9-nya hingga ke Bali, mengaku tidak lagi menjadikan pengisian daya sebagai hambatan. Kuncinya terletak pada perencanaan sederhana sebelum berangkat.

“Saya tidak terlalu memusingkan ini. Di setiap titik tempat peristirahatan (kini) sudah pasti ada pengisian, dan di kota-kota besar, di hotel, kantor PLN, atau mal juga sudah ada,” ujar Kwok.

Kwok menghitung penghematannya secara rinci. Dengan pengecasan malam hari di rumah dan tarif listrik malam hari Rp 1.200 per kWh serta konsumsi sekitar 4 kilometer per kWh, biaya per kilometer Denza D9 hanya berkisar Rp 300. Perbandingan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan mobil MPV berbahan bensin yang ia miliki sebelumnya, yang dengan konsumsi 7 kilometer per liter dan harga bahan bakar Rp 15.000, biaya per kilometernya mencapai lebih dari Rp 2.000.

“Kalau pakai bensin bisa Rp 2 juta untuk perjalanan, kalau pakai Denza ya paling Rp 300.000-an saat pengecasan malam hari di rumah,” ungkap Kwok.

Andry merasakan hal serupa. Sebelumnya, pengeluaran bulanan untuk bahan bakar dan operasional kendaraan premiumnya bisa jauh lebih besar. Kini, dengan Denza D9 yang ia isi daya hampir sepenuhnya di rumah, pengeluaran tersebut turun drastis.

“Intinya, saya beli Denza karena nyari opsi kenyamanan dari kelas MPV premium dengan biaya jauh lebih rasional,” ujar Andry lugas.

Biaya perawatan pun turut ringan. Tanpa mesin pembakaran internal, kebutuhan servis berkurang signifikan, meliputi komponen seperti rem, spooring balancing, dan perawatan sistem pendingin udara. Program gratis servis sebanyak tujuh kali dari Denza semakin meringankan beban di tahun-tahun awal kepemilikan.

Standar Baru MPV Premium Listrik

Melihat keseluruhan pengalaman selama setahun terakhir, Denza D9 tidak hanya berhasil memenuhi ekspektasi yang dibangun sejak awal, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai tolok ukur baru di segmen MPV premium listrik di Indonesia.

Bagi Kwok, ada satu frasa yang paling tepat merangkum keputusannya memilih Denza D9.

“Half the price, double the benefit,” katanya.

Andry memiliki pandangan yang serupa. Baginya, Denza D9 adalah bukti nyata bahwa kemewahan dan efisiensi dapat hadir dalam satu paket.

“Value for money,” kata Andry singkat.

Memasuki tahun kedua operasionalnya, Denza D9 berdiri pada posisi yang semakin matang, tidak hanya dari sisi teknologi dan produk, tetapi juga dalam membangun kepercayaan konsumen yang kini berbicara berdasarkan pengalaman langsung.

Dengan kombinasi kenyamanan kelas atas, inovasi teknologi, dan efisiensi operasional, Denza D9 membuktikan bahwa standar baru dalam mobilitas premium bukan lagi sekadar klaim, melainkan realitas yang kini semakin dirasakan setiap harinya.

Advertisement