JAKARTA, KOMPAS.com – Dua emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), menghadapi potensi pengeluaran dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ancaman ini timbul akibat klasifikasi keduanya dalam kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC), yang menjadi sorotan utama dalam evaluasi indeks global tersebut.
Dalam tinjauan terbarunya untuk periode Mei 2026, MSCI kembali menegaskan pembatasan terhadap saham-saham Indonesia. Salah satu kebijakan krusial yang ditegaskan adalah pengeluaran saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. Kebijakan ini didasari pertimbangan risiko terhadap likuiditas dan aksesibilitas investasi.
Dampak Kebijakan MSCI pada Sektor Energi dan Infrastruktur
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengidentifikasi sektor energi dan infrastruktur sebagai area yang paling rentan terdampak oleh kebijakan MSCI. Menurutnya, hal ini berkaitan erat dengan dominasi saham DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) sangat besar.
Pergerakan kedua saham tersebut, lanjut Azharys, memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja sektor masing-masing bahkan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan. “Sektor yang paling terdampak adalah energi dan infrastruktur. Hal ini tidak lepas dari peran DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) sangat besar, sehingga fluktuasi pada kedua saham tersebut secara langsung menjadi pemberat bagi performa sektor masing-masing sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan,” ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Tekanan pada Saham DSSA dan BREN
Reaksi pasar terhadap potensi perubahan indeks ini terlihat jelas pada sesi perdagangan Selasa. Saham DSSA mengalami pelemahan tajam sebesar 13,15 persen, ditutup pada level Rp 2.840. Sepanjang sesi, saham ini sempat menyentuh harga tertinggi Rp 3.270 sebelum akhirnya tertekan jual hingga ke kisaran Rp 2.800.
Sementara itu, saham BREN juga mencatat koreksi sebesar 7,20 persen, berada di area Rp 6.125. Perdagangan intraday saham BREN sempat mencapai Rp 6.600 sebelum terkoreksi ke level terendah di kisaran Rp 5.975.
Sentimen Negatif yang Terantisipasi
Azharys menilai keputusan MSCI yang masih menahan inklusi saham Indonesia memberikan sentimen negatif bagi pasar. Namun, tekanan yang muncul dinilai relatif terbatas karena pelaku pasar telah mengantisipasinya. “Jika melihat dinamika pasar pada pembukaan perdagangan 21 April, pelemahan yang terjadi menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah mengantisipasi atau priced-in terhadap keputusan ini,” paparnya.
Sejak awal, investor memang tidak mematok ekspektasi tinggi terhadap kemungkinan segera dilakukannya inklusi saham Indonesia ke dalam indeks MSCI. Meskipun demikian, risiko teknis tetap perlu diwaspadai, terutama potensi arus keluar dana pasif (passive funds) yang diperkirakan dapat mencapai Rp 15 triliun. Nilai ini dianggap cukup signifikan dan berpotensi menekan IHSG jika terjadi dalam waktu singkat.
Performa IHSG dan Aktivitas Perdagangan
Secara agregat, IHSG pada sesi pertama perdagangan Selasa juga menunjukkan tekanan dan berada di zona merah. Indeks dibuka pada level 7.560,28 dan sempat menguat tipis ke posisi tertinggi harian 7.568,98. Namun, tekanan jual kembali mendominasi, mendorong indeks turun ke level terendah 7.511,82.
Hingga berita ini diturunkan, IHSG tercatat berada di 7.549,40, melemah 0,59 persen. Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 24,29 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 9,81 triliun dan frekuensi 1,56 juta kali. Menariknya, jumlah saham yang menguat (356 saham) masih lebih banyak dibandingkan yang melemah (298 saham), sementara 160 saham lainnya stagnan.
Risiko Likuiditas dan Valuasi pada Saham HSC
Lebih lanjut, risiko likuiditas dan tekanan valuasi diperkirakan akan paling terasa pada saham-saham yang masuk dalam kategori HSC. MSCI secara tegas mengonfirmasi bahwa saham dalam kategori tersebut akan dikeluarkan dari indeks, yang secara otomatis akan memicu penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya telah merilis daftar saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) per 31 Maret 2026. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi pasar dan memberikan informasi tambahan bagi investor dalam mengambil keputusan.
Daftar Emiten dengan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi (HSC) per 31 Maret 2026:
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY): 95,47 persen
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII): 97,75 persen
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS): 98,35 persen
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO): 95,35 persen
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): 95,76 persen
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): 97,31 persen
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.






