JAKARTA, KOMPAS.com – Perjuangan panjang perempuan untuk dapat hadir dan bersuara di ruang publik, termasuk kancah politik, diakui Anggota Komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama dalam menghadapi maraknya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
“Jalan yang panjang untuk perempuan bisa ada di ruang publik, perempuan ada di ruang politik, perempuan bisa bersuara,” ujar Rieke dalam podcast Gaspol! yang tayang di kanal YouTube Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Rieke mengingatkan bahwa momentum kemajuan perempuan tidak datang begitu saja. Ia mencontohkan perjuangan pahlawan nasional seperti Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika yang rela mendirikan sekolah perempuan demi membuka akses pendidikan bagi kaumnya. Namun, ironisnya, di tengah kemajuan yang telah dicapai, kasus kekerasan seksual justru kian marak, bahkan di lingkungan kampus.
Lebih mengkhawatirkan lagi, menurut Rieke, kekerasan seksual sering kali diremehkan, bahkan dianggap sebagai hal yang lumrah. “Ketika orang sudah menganggap kejahatan seksual itu adalah sesuatu yang normal, maka kejahatan yang lain, mau korupsi, mau apa, itu sudah lebih tak dianggap lagi,” tuturnya.
Oleh karena itu, politikus PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa perjuangan perempuan belum usai. Tantangan untuk bebas dari ancaman kekerasan seksual masih menjadi prioritas utama.
Rieke menekankan bahwa semangat perjuangan Kartini bukanlah untuk menciptakan dikotomi antara laki-laki dan perempuan, apalagi membangun tirani perempuan atas laki-laki. Sebaliknya, ia mengutip ajaran Kartini bahwa perjuangan ini adalah tentang bagaimana laki-laki dan perempuan dapat bergandengan tangan membangun masyarakat, bangsa, dan negara yang lebih baik.
Obrolan mendalam mengenai isu ini dapat disimak dalam podcast Gaspol! yang tayang perdana pada hari ini, Selasa (21/4/2026), pukul 20.30 WIB.






