Generasi Z kerap dicap sebagai kelompok pekerja yang “lembek” dan mudah terbawa perasaan (baper) dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, anggapan ini dibantah oleh pakar ketenagakerjaan yang menilai Gen Z justru memiliki pola pikir lebih terbuka, kritis, dan berani menyuarakan hak-hak mereka di lingkungan kerja.
“Ya (memiliki) pandangan boleh, tetapi realitasnya menurut saya enggak begitu karena banyak juga anak-anak Gen Z yang begitu keras. Menurut hemat saya, mereka sangat terbuka,” ungkap Guru Besar sekaligus Pakar Ketenagakerjaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjuddin Noer Effendi, saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Menurut Tadjuddin, stigma ini muncul akibat adanya kesenjangan antar generasi yang dipengaruhi oleh perbedaan konteks dan situasi sosial, termasuk di dunia kerja.
Ia mencontohkan, banyak lulusan baru atau mahasiswa magang yang kerap diberikan tugas setara karyawan dengan upah minim. Situasi ini mendorong Gen Z untuk memprotes sistem yang mereka anggap sebagai eksploitasi.
“Mereka pasti tidak mau, karena menurut mereka itu eksploitasi. Gen Z juga vokal dengan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi mereka, sangat vokal,” tegas Tadjuddin.
Perbedaan pandangan ini juga dipengaruhi oleh fase kehidupan. Generasi yang lebih tua dinilai telah melewati proses panjang menuju kemapanan, sementara Gen Z masih dalam tahap mencari peluang dan membangun karier. Kondisi ini membuat Gen Z lebih berani bersuara ketika menghadapi ketidakadilan praktik kerja.
“Jadi menurut hemat saya kita menilainya tidak bisa dengan pandangan generasi tua, zamannya berbeda, kondisi sosialnya sudah berbeda,” ujar Tadjuddin.
Melek Teknologi Ciptakan Peluang Baru
Di sisi lain, Gen Z memiliki keunggulan signifikan dalam adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Keterbiasaan mereka dengan digitalisasi, media sosial, hingga kecerdasan buatan (AI) menjadi modal penting di dunia kerja modern.
Tadjuddin menambahkan, kemampuan ini membuat Gen Z lebih fleksibel dalam mencari peluang, termasuk melalui platform digital dan ekonomi kreatif.
“Anda tahu di Nepal dan di Bulgaria, Gen Z itu bergerak bisa menumbangkan pemerintahan mereka karena mereka menguasai media sosial dan mereka bisa melakukan segala macam mencari data yang berkaitan dengan apa yang dilakukan pemerintah,” jelas Tadjuddin.
“Jadi kalau dibilang lembek kan enggak ya. Ya emang kalau mereka mau dieksploitasi di tempat kerja ya mereka pasti protes,” lanjutnya.
Meski demikian, Gen Z juga menghadapi tantangan dalam mencari pekerjaan di sektor formal. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka untuk usia 15-19 tahun mencapai 23,34%, usia 20-24 tahun sebesar 14,35%, dan usia 25-29 tahun sebesar 6,67%.
“Memang mereka dalam keadaan sulit sekarang mendapat kerja, banyak sekali yang menganggur. Kalau sekarang dicatat kira-kira 8 juta Gen Z yang menganggur, tapi kan mereka bisa menciptakan peluang kerja mereka sendiri,” beber Tadjuddin.





