Nasional

Kapolri Minta Brimob Pelajari Situasi Global, Antisipasi Dampak ke Dalam Negeri

Advertisement

DEPOK, KOMPAS.com – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan Korps Brigade Mobil (Brimob) untuk terus memantau perkembangan situasi global, termasuk dinamika geopolitik dan geoekonomi. Langkah ini diambil guna mengantisipasi potensi dampaknya terhadap stabilitas keamanan di dalam negeri.

Instruksi tersebut disampaikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat memimpin apel dan memberikan pengarahan dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Korbrimob Polri yang diselenggarakan di Markas Komando (Mako) Korbrimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (21/4/2026).

“Tentunya saya sangat percaya bahwa rekan-rekan sebagai special force Polri, sebagai kekuatan inti dalam menghadapi eskalasi ancaman gangguan kamtibmas yang tinggi, rekan-rekan akan menjadi salah satu tim yang menjadi andalan pada saat situasi betul-betul membutuhkan kehadiran rekan-rekan,” ujar Kapolri dalam amanatnya.

Ia menambahkan, personel Brimob diminta untuk mempelajari secara mendalam terkait situasi dan eskalasi yang tengah berkembang. “Oleh karena itu tolong pelajari betul terkait dengan situasi dan eskalasi yang ada, pelajari kondisi dan medan di lapangan,” tegasnya.

Potensi Dampak Konflik Timur Tengah

Kapolri secara khusus menyoroti eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran. Ia menilai, konflik tersebut memiliki potensi untuk meluas dan memberikan konsekuensi terhadap stabilitas global.

Menurut Jenderal Listyo Sigit Prabowo, konflik tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor energi dunia. Ia memberikan contoh serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco serta gangguan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

“Selat Hormuz ini dilalui sekitar 20 persen distribusi energi global,” jelasnya.

Advertisement

Lebih lanjut, Kapolri memaparkan skenario terburuk jika Selat Hormuz terus mengalami gangguan. “Apabila Selat Hormuz terus mengalami gangguan, maka harga minyak bisa terus naik. Beberapa waktu yang lalu kita sudah tembus di atas 100 USD per barrel dan kalau ini terus berlanjut ini bisa mencapai angka 200 USD per barel,” paparnya.

Tekanan Ekonomi dan Keamanan Dalam Negeri

Kondisi tersebut, menurut Kapolri, berpotensi memicu tekanan ekonomi global yang juga dapat merembet ke Indonesia. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi menjadi salah satu kekhawatiran utamanya.

Dampak lanjutan dari situasi ekonomi yang tertekan ini, lanjutnya, adalah potensi meningkatnya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Oleh karena itu, Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan kembali pentingnya kesiapsiagaan personel Brimob. Kesiapsiagaan tersebut dapat dicapai melalui intensifikasi latihan, simulasi, serta pemahaman yang mendalam terhadap kondisi lapangan.

“Oleh karena itu tentunya kita semua harus selalu siap, kita semua harus selalu waspada, kita semua harus mempersiapkan diri untuk terus melatih menghadapi segala macam dinamika yang mungkin terjadi,” pungkasnya.

Advertisement