Lifestyle

Kisah Ruth Estika, Didikan Orangtua Jadi Bekal Meraih Mimpi Berkarier di Tesla Belanda

Advertisement

Perjalanan karier Ruth Estika Ave Haryono di Tesla Belanda tidak serta-merta mulus. Di balik pencapaiannya saat ini, tersimpan kisah perjuangan yang berawal dari pilihan yang sempat terasa bukan miliknya, diwarnai keraguan, kegagalan, hingga keberanian menemukan arah hidup sendiri. Fondasi kuat yang tak tergoyahkan adalah didikan orangtuanya.

Perempuan 29 tahun yang juga seorang ibu dua anak ini membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh permulaan yang sempurna, melainkan oleh ketangguhan dalam menghadapi proses yang tidak mudah.

Didikan Orangtua Menjadi Pijakan Awal

Sejak kecil, Ruth tumbuh dalam lingkungan keluarga yang erat kaitannya dengan dunia medis. Arah pendidikannya pun seolah sudah tergariskan sejak dini. Ia menempuh pendidikan strata satu (S1) Farmasi di Universitas Sanata Dharma, sebuah pilihan yang dianggap paling aman oleh keluarganya.

“Mama aku perawat, kakak aku juga sekolah dokter. Jadi memang kecenderungan pilihan keluarga lebih ke medis karena mereka sudah tahu market-nya,” jelas Ruth saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Namun, di tengah rutinitas perkuliahan, muncul kegelisahan yang perlahan menguat. Ia mulai merasa tidak berada di jalur yang tepat. “Ketika semester 2 atau 3 aku sudah merasa tidak cocok dan minta ganti jurusan ke orangtua, tapi tidak disetujui. Mereka mengajarkan aku untuk bisa bertanggung jawab menyelesaikan satu hal,” ujarnya.

Alih-alih menyerah, Ruth memilih untuk bertahan dan menyelesaikan studinya hingga akhir, meskipun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di bawah 3. Bagi keluarganya, proses menyelesaikan sebuah amanah jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir.

Merantau ke Belanda, Menghadapi Titik Terendah

Perjalanan hidup Ruth berlanjut ke babak baru ketika ia menikah dan harus pindah ke Belanda. Negara dengan budaya, bahasa, dan ritme hidup yang berbeda mengharuskannya belajar dari nol.

Hari-hari yang awalnya penuh harapan perlahan berubah menjadi fase penuh tekanan. Jarak dari keluarga, keterbatasan adaptasi, dan rasa kehilangan arah membuatnya terpuruk. “Aku sempat hampir depresi, nggak mau ketemu orang, rasanya pengin pulang ke Indonesia aja. Di momen seperti ini, orangtua aku support aku untuk tidak impulsif mengambil keputusan,” ungkapnya.

Di titik terendah itulah, peran suami dan orangtua kembali menjadi penopang utama. Mereka tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga membantu Ruth melihat situasi dengan lebih jernih. “Mereka mengajarkan aku untuk meregulasi emosi dan pikiran, kemudian mendukung aku untuk bertahan karena aku sudah punya keluarga baru juga di Belanda,” lanjutnya.

Didikan Orangtua Membentuk Keberanian Mengubah Arah

Seiring waktu, Ruth mulai memahami bahwa jalan hidupnya tidak harus selalu lurus sesuai rencana awal. Orangtuanya pun tidak memaksanya untuk tetap berada di jalur yang sama, melainkan mendorongnya untuk menemukan arah sendiri.

“Orangtuaku bilang gini, ‘Kalau memang ini bukan jalanmu, ya sudah, kamu lulus buat mama dan papa saja. Tapi untuk dirimu sendiri kamu harus cari jalan sendiri untuk survive di dunia ini’,” tuturnya.

Nilai-nilai sederhana yang ditanamkan sejak kecil, seperti rasa syukur, ketekunan, dan keberanian mencoba, perlahan membentuk mentalnya menjadi lebih tangguh. “Aku bersyukur banget punya suami dan keluarga yang supportive sama apapun keadaan aku. Orangtuaku juga bilang untuk selalu bersyukur terhadap hal kecil, karena banyak yang ingin di posisiku sekarang,” katanya.

Didikan tersebut juga membangun kepercayaan diri yang kuat dalam dirinya. “Mereka tidak pernah protes kalau nilaiku turun, tapi justru memberi refleksi ke aku supaya aku bisa bangkit dan menghargai setiap progres. Hal ini yang bikin self-esteem dan self-confident aku tinggi,” imbuhnya.

Advertisement

Transisi Karier dan Prestasi Gemilang

Keputusan besar akhirnya diambil. Ruth memilih keluar dari zona nyaman dan memulai ulang dengan mengambil program pre-master untuk beralih dari farmasi ke bidang bisnis. Langkah ini menjadi titik balik penting dalam hidupnya.

“Sebelum S2 aku ambil pre-master untuk switch major dari farmasi ke bisnis. Setelah selesai setahun, aku langsung masuk ke program master dan aku hamil anak pertama,” ujarnya.

Di tengah kehamilan, ia tetap melanjutkan studi dengan disiplin tinggi. Ia menetapkan target yang jelas untuk dirinya sendiri. “Aku memberikan deadline ke diriku untuk menyelesaikan tesis ini sebelum aku melahirkan, karena aku tahu kalau tidak mudah menjadi ibu baru sekaligus mengurus tesis,” katanya.

Ketekunan itu membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menyelesaikan studinya dengan prestasi gemilang. “Tanpa ekspektasi apapun dan hanya percaya pada prosesnya, Puji Tuhan, kurang lebih satu tahun aku menyelesaikannya. Bahkan waktu itu dapat Student of The Year dengan IPK tertinggi dan Best Thesis,” ungkapnya.

Perjalanan Profesional dari Amazon hingga Tesla

Langkah profesional Ruth dimulai saat ia bekerja di Amazon Belanda selama tiga tahun. Lingkungan kerja yang nyaman sempat membuatnya merasa berada di tempat yang tepat. Namun, situasi berubah ketika departemennya ditutup pada September 2025.

“Aku bekerja di Amazon Belanda 3 tahun dan lingkungan pekerjaannya enak banget. Namun, departemenku di shut down dan aku harus kena lay off,” tuturnya.

Kehilangan pekerjaan bukan akhir dari perjalanannya. Ia kembali mengumpulkan keberanian untuk mencoba peluang baru, termasuk melamar ke Tesla Belanda. Penantiannya pun berbuah manis, pada November 2025 ia diterima untuk bekerja di Tesla dan kini menikmati tanggung jawab barunya.

“Aku sempat hampir hilang harapan, karena sudah 3 minggu tidak ada kabar, tapi ternyata dengan value dan kompetensi yang aku miliki, pihak mereka akhirnya mau menerima aku,” katanya.

Kini, ia pun aktif membagikan tips dan persiapan kuliah di luar negeri, serta bermimpi untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Lebih dari sekadar kisah personal, perjalanan Ruth menjadi cerminan bagaimana peran orangtua dapat membentuk perempuan yang tangguh dan berdaya.

Nilai tentang tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan bangkit dari keterpurukan menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, didikan seperti inilah yang melahirkan “Kartini masa kini” – perempuan yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga memiliki ketahanan mental, kepercayaan diri, dan keteguhan untuk mewujudkannya, di mana pun mereka berada.

“Jangan berkecil hati, tapi nikmati dan percaya pada setiap proses dalam kehidupan. Cintailah dirimu sendiri, karena dari situ akan muncul rasa percaya diri dan self-esteem yang kuat,” pungkasnya.

Advertisement