Regional

Kisah Tri Widiyantie, Berdikari Besarkan Dua Putri dan Media Lokal Bandung

Advertisement

BANDUNG, KOMPAS.com – Di tengah geliat media massa yang kian terintegrasi, membangun dan membesarkan sebuah media lokal hingga diperhitungkan di Kota Bandung bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Tri Widiyantie (44), perjalanan itu dijalani dengan ketangguhan luar biasa, tidak hanya dalam kariernya di dunia jurnalistik, tetapi juga dalam kehidupan pribadinya sebagai ibu tunggal.

Sejak tahun 2022, tangan dingin Tri telah membawa salah satu media massa terintegrasi di Bandung berkembang pesat. Perjalanannya dimulai dari posisi reporter paling bawah. Keuletan, kreativitas, dan dedikasi membawanya naik secara bertahap hingga dipercaya memegang tampuk kepemimpinan di salah satu media regional Jawa Barat.

“Kalau (jabatan) pimred baru tiga bulan ini karena dulu redaksinya sempat vakum, bisa dibilang aku awalnya ngelola ini dari awal sendiri sampai sekarang ada enam orang yang terlibat, termasuk kontributor,” ujar Tri kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Kesuksesan Tri tidak hanya terbatas pada pengembangan media. Ia juga mampu memberikan kontribusi pemasukan yang signifikan. “Alhamdulillah, untuk omzet bisa sampai Rp 100 juta tiga bulan terakhir,” ungkapnya.

Perjuangan di Balik Kesuksesan

Namun, di balik pencapaian gemilangnya, Tri menyimpan kisah perjuangan yang tak ringan. Kehidupan pribadinya adalah potret kegigihan seorang wanita yang berjuang keras demi kedua putri tercintanya.

Dalam rangka Hari Kartini, Tri berharap kisahnya dapat menginspirasi wanita Indonesia untuk tetap tangguh, berdikari, dan menjunjung tinggi komitmen serta kesetiaan dalam melindungi keluarga.

“Dari semua yang aku lewati, intinya jadi perempuan itu harus bisa berdaya di segala situasi. Mau suami kita orang kaya, tetap kita harus bisa berdikari. Karena kita enggak tahu kondisi apa yang akan terjadi ke depan. Dan, semakin tinggi ilmu kita, ternyata membuat kita mampu memahami segala situasi apa yang kita hadapi. Intinya, apa pun masalahnya, secara mental kita harus stabil,” ucapnya.

Kehidupan Tri awalnya berjalan normal, kebutuhan primer dan tersier terpenuhi, bahkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Namun, pada tahun 2016, sebuah perubahan besar memaksanya bekerja ekstra keras. Sang suami tidak lagi dapat berperan dalam menafkahi dan mengurus keluarga.

Masa ini menjadi titik terberat dalam hidup Tri. Ia tidak hanya fokus pada profesinya sebagai jurnalis, tetapi juga merambah berbagai peluang lain untuk menambah pemasukan, mulai dari membuat rilis hingga berjualan skincare dan makanan.

“Titik terendah aku pernah cuma pegang uang Rp 10 ribu. Mau minta ke orang tua malu karena aku jarang pinjem ke orang tua. Tapi, alhamdulillah orang tua mengerti kondisi aku, ya sering dibekelin sembako jadinya,” ujarnya sambil tersenyum.

Di tengah perjuangan terberat itu, Tri sedang mengandung anak keduanya. Pada 4 Oktober 2017, ia melahirkan putri keduanya di salah satu rumah sakit di Bandung tanpa didampingi suami secara langsung. “Untungnya suami aku masih bisa azanin anaknya walaupun cuma lewat video call,” ungkap Tri.

Advertisement

Tuhan seolah menggemblengnya untuk menjadi orang tua tunggal. Pada tahun 2019, Tri harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan sang suami yang meninggal dunia akibat kanker setelah menjalani perawatan intensif.

“Walaupun sempat merasa capek dengan semua ini, tapi aku tidak minta cerai karena buat aku, pernikahan di usia 30 tahun harus sudah bisa menerima segala konsekuensi, dan aku sudah berkomitmen akan terus dampingi suami aku sampai kapan pun,” ujarnya.

“Apa pun ujiannya, aku lewati saja semuanya. Dan aku selalu percaya selalu ada campur tangan Tuhan. Banyak mukjizat yang enggak masuk akal,” tuturnya.

Semangat Bangkit untuk Masa Depan

Tak ingin larut dalam kesedihan, Tri bangkit dengan segenap kemampuan dan pengalaman jurnalistiknya. Kini, perempuan kelahiran 26 September 1981 ini telah mencapai titik stabilitas ekonomi.

Setelah melewati ujian hidup yang berat, Tri perlahan mampu kembali menabung untuk masa depan kedua putrinya dan memiliki waktu berkualitas bersama keluarga.

“Sebelumnya memang ada waktu yang hilang sama anak. Tapi, alhamdulillah sekarang bisa lebih fleksibel, bisa lebih sering ngumpul sama keluarga, sudah cukup,” ujarnya.

Tri mengakui adanya waktu yang sempat hilang bersama kedua putrinya yang kini duduk di bangku kelas 8 SMP Negeri dan kelas 2 SD Negeri di Bandung. “Kalau sekarang sebisa mungkin ngantar anak-anak sekolah mau kaya gimanapun masalahnya, sebisa mungkin aku antarkan sekolah,” tuturnya.

Selain itu, Tri juga senantiasa mendukung hobi dan bakat anak-anaknya. Di bidang akademik, ia bersyukur kedua putrinya menunjukkan prestasi yang membanggakan.

“Karena anak aku yang pertama sekolahnya gratis, jadi uang bulanannya aku alihkan buat ikut les panahan dari mulai kelas III SD sampai kelas VII SMP,” tuturnya.

“Alhamdulillahnya pernah juara satu Piala Kemenpora Indonesia Memanah 7. Di sekolah juga alhamdulillah bisa berprestasi. Kalau yang besar itu selalu masuk peringkat lima besar, kalau yang kecil selalu masuk tiga besar di kelas. Jadi, perjuangan aku selama belasan tahun ini lumayan terbayarkan dengan prestasi mereka,” tuturnya.

Advertisement