Regional

Peneliti Rekonstruksi Tragedi Sintuk 1947–1949, Upaya Angkat Sejarah Lokal yang Terlupakan

Advertisement

PADANG PARIAMAN — Upaya mengungkap dan merekonstruksi peristiwa kelam Tragedi Perang Sintuk (1947-1949) di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tengah dilakukan oleh tim peneliti akademisi sejarah dan budaya. Studi lapangan yang berlangsung pada Sabtu (18/04/2026) ini bertujuan memperkuat historiografi lokal sekaligus melestarikan memori kolektif masyarakat yang selama ini terabaikan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang mengombinasikan wawancara mendalam, penelusuran arsip, serta observasi langsung di lokasi-lokasi yang diduga menjadi titik terjadinya peristiwa berdarah tersebut. Tragedi Sintuk sendiri dipandang sebagai bagian dari dinamika perlawanan lokal pasca Agresi Militer Belanda II, di tengah krisis politik nasional.

Peristiwa ini kerap luput dari catatan sejarah nasional, khususnya dalam konteks sejarah lokal Sumatera Barat, padahal diketahui sebagai salah satu pembantaian massal.

Penguatan Narasi Lokal

Ketua tim peneliti, Piki S. Pernantah, menekankan bahwa studi etno-historis ini tidak hanya berfokus pada kronologi, tetapi juga mendalami makna sosial dan kultural di balik Tragedi Sintuk.

“Sejarah lokal seperti Tragedi Sintuk sering kali terpinggirkan dalam narasi besar nasional. Padahal, di situlah kita menemukan dinamika nyata perjuangan masyarakat dari lapisan bawah,” ujar Piki, Rabu (22/04/2026).

Tim peneliti mengedepankan pendekatan kolaboratif-partisipatif dengan menjadikan masyarakat sebagai sumber utama. Wawancara dilakukan dengan metode sejarah lisan terhadap tokoh adat, saksi sejarah, dan warga yang mewarisi cerita turun-temurun.

Pendekatan interdisipliner yang menggabungkan perspektif sejarah, budaya, dan pendidikan dinilai mampu menghasilkan analisis yang lebih komprehensif. Hal ini memungkinkan peristiwa tidak hanya dilihat sebagai fakta historis, tetapi juga sebagai konstruksi memori kolektif.

Anggota tim peneliti, Fikrul Hanif Sufyan, menambahkan bahwa hasil studi ini berpotensi dikembangkan menjadi bahan ajar sejarah kontekstual di sekolah. Tujuannya agar siswa tidak hanya memahami sejarah secara tekstual, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan pengalaman sosial dan budaya di lingkungan mereka.

“Tragedi ini tidak hanya direkonstruksi sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai bagian dari kesadaran kolektif masyarakat,” ungkap Fikrul. Ia berharap upaya ini dapat memperkuat posisi sejarah lokal dalam wacana nasional dan mendorong generasi muda untuk lebih memahami warisan sejarah bangsa.

Pembantaian di Tepi Rel Kereta

Tragedi Sintuk terjadi pada awal Juni 1949, saat Agresi Militer Belanda II berlangsung. Wilayah Sintuk menjadi titik strategis pergerakan gerilya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang kala itu dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Advertisement

Berdasarkan catatan dan cerita yang dihimpun, tentara Belanda melakukan operasi penyisiran dan menangkap warga sipil serta sejumlah anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dari berbagai nagari. Para tawanan kemudian digiring ke jalur kereta api yang melintasi wilayah tersebut sebelum dibawa ke sebuah surau tua di tepi Sungai Batang Tapakih.

Di lokasi yang kini dikenal sebagai Surau Batu, puluhan warga dan pejuang dilaporkan dieksekusi tanpa proses pengadilan. Sekitar 40 orang dilaporkan gugur dalam peristiwa tersebut.

Tiga orang dilaporkan berhasil selamat dari tragedi itu, yakni Buyuang Gati, Hongkong, dan Nasir Labai Buyuang Itik. Mereka berhasil melarikan diri dengan melompat ke Sungai Batang Tapakih saat eksekusi berlangsung.

Dari Ingatan Lisan ke Museum

Selama puluhan tahun, Tragedi Sintuk lebih banyak hidup dalam ingatan lisan masyarakat dan keluarga korban, jarang tercatat dalam narasi sejarah nasional.

Upaya pelestarian mulai menemukan bentuk konkret pada tahun 2021, ketika masyarakat Nagari Sintuk secara swadaya mendirikan Museum Perang Sintuk. Museum ini kini menyimpan ratusan artefak, mulai dari selongsong peluru, perlengkapan gerilya, hingga dokumen bersejarah yang menjadi bukti perjuangan masyarakat setempat.

Seorang penggiat museum menyatakan, pendirian museum ini bertujuan menjaga ingatan kolektif agar generasi mendatang memahami sejarah perjuangan di daerah mereka.

“Kami tidak ingin anak cucu kami hanya tahu merdeka tanpa tahu bagaimana darah dikorbankan di kampung sendiri,” ujarnya.

Tim peneliti berharap hasil rekonstruksi Tragedi Sintuk ini tidak hanya berhenti sebagai kajian akademik. Diharapkan, studi ini dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan kebudayaan, penguatan kurikulum sejarah lokal, serta mendorong inisiatif pelestarian berkelanjutan. Penelitian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah lokal merupakan bagian integral dari sejarah bangsa yang perlu terus dijaga dan diwariskan.

Advertisement