Megapolitan

Tanpa Regulasi, Privasi Klien Jasa Teman Curhat Bergantung pada Komitmen Penyedia

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Maraknya fenomena jasa “teman curhat” berbayar di platform media sosial menimbulkan pertanyaan tentang keamanan privasi para klien. Layanan yang menawarkan ruang aman untuk berbagi cerita ini berkembang pesat, namun belum diatur oleh regulasi yang jelas, membuat perlindungan data sepenuhnya bergantung pada komitmen para penyedia jasa.

Beragam variasi harga dan metode komunikasi, mulai dari pesan singkat hingga sambungan telepon, ditawarkan oleh para penyedia jasa ini. Namun, di balik kemudahan tersebut, belum adanya standar yang jelas membuka potensi risiko bagi pengguna layanan nonprofesional ini.

Noah (28), seorang penyedia jasa teman curhat yang telah beroperasi sejak 2023 melalui akun TikTok @HIMAWARI, mengaku menerapkan sejumlah batasan ketat. Ia tidak membuka komunikasi di luar sesi secara bebas dan mengarahkan klien untuk melakukan pemesanan ulang jika ingin melanjutkan sesi. Selain itu, Noah mengklaim menjaga kerahasiaan klien dengan menghapus riwayat percakapan dan tidak menyimpan data pribadi tanpa persetujuan.

“Dengan menghapus chat room dan nomor telepon atau WhatsApp, tidak menyebarkan ke mana dan siapa pun, menurut saya cukup menjamin kerahasiaan klien,” katanya saat dihubungi, Senin (20/4/2026). Ia menambahkan bahwa sejauh ini belum ada keluhan terkait kerahasiaan data dari kliennya.

Raina (26), penyedia jasa serupa lainnya, juga menekankan pentingnya kepercayaan sebagai fondasi utama. Ia mengaku tidak menyimpan data apa pun setelah sesi berakhir, sebuah langkah yang dianggapnya paling sederhana namun krusial untuk menjaga kerahasiaan.

“Cara paling simpel ya dengan tidak menyimpan data mereka. Chat dihapus, nomor juga dihapus kalau sudah selesai. Dan saya juga nggak pernah cerita ke orang lain, walaupun tanpa menyebut nama. Buat saya itu penting banget, karena kepercayaan itu satu-satunya ‘modal’ di jasa ini,” tuturnya saat dihubungi pada hari yang sama.

Raina menegaskan bahwa tidak ada dokumentasi percakapan yang disimpan, baik untuk arsip pribadi maupun keperluan lain. Keputusan ini diambil agar klien merasa lebih aman saat berbagi cerita.

“Enggak ada dokumentasi sama sekali. Saya sengaja enggak simpan apa pun, karena justru itu yang bikin klien merasa lebih aman,” ungkapnya.

Batas Tipis Aman

Psikolog Virginia Hanny menilai bahwa layanan teman curhat memang dapat menjadi ruang awal bagi seseorang untuk merasa didengar. Namun, ia menegaskan bahwa layanan ini tidak dapat disamakan dengan layanan profesional yang memiliki standar jelas.

Perbedaan mendasar terletak pada kompetensi dan batasan peran. Tanpa pelatihan khusus serta kode etik, layanan ini dinilai tidak memiliki landasan yang cukup kuat untuk menangani persoalan yang lebih kompleks. Pengguna layanan ini, terutama dalam kondisi emosional yang rentan, berpotensi menghadapi risiko lain, seperti salah memahami masalah hingga ketergantungan emosional.

“Tanpa adanya pelatihan khusus, seseorang bisa saja memberikan interpretasi atau saran yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dari individu tersebut,” ujar Virginia.

Ia juga menyoroti kecenderungan individu untuk lebih mudah percaya ketika sedang dalam kondisi tertekan.

“Dalam situasi emosi yang lebih rentan, seorang individu memang akan cenderung ingin didengar dan dipahami, lebih terbuka kepada mereka yang memberikan perhatian, serta menjadi lebih mudah percaya,” jelasnya.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi ketergantungan, bahkan membuat seseorang terus menggunakan layanan meski tidak lagi membutuhkan, atau justru menunda mencari bantuan profesional yang lebih tepat.

Perlu Regulasi agar Tidak Jadi Ruang Abu-abu

Virginia Hanny berpendapat bahwa maraknya jasa teman curhat tidak seharusnya dibiarkan berjalan tanpa batasan yang jelas. Ia menilai keberadaan layanan ini tetap perlu diatur untuk melindungi pengguna dan penyedia jasa.

Advertisement

“Tentu saja, sebaiknya layanan teman curhat ini juga membutuhkan batasan atau regulasi tertentu. Tujuannya bukan untuk melarang adanya layanan, namun untuk melindungi pengguna dan penyedia layanan, serta menjaga kejelasan peran sehingga tetap profesional,” ujar Virginia.

Transparansi sejak awal menjadi hal penting, terutama untuk menjelaskan bahwa layanan tersebut bukanlah layanan profesional. Tanpa kejelasan ini, pengguna berpotensi memiliki ekspektasi yang keliru terhadap bantuan yang diterima.

Selain itu, batasan penanganan masalah juga perlu ditegaskan.

“Batasan pemberian layanan yang jelas (dimana teman curhat tidak akan menangani kasus yang berat dan akan langsung merujuk penggunanya pada layanan professional),” jelasnya.

Edukasi kepada pengguna juga menjadi kunci agar mereka memahami kapan harus mencari bantuan yang lebih tepat. Hal ini penting agar layanan teman curhat tidak menggantikan peran tenaga profesional dalam menangani masalah psikologis yang lebih serius.

“Walaupun layanan teman curhat memang sangat bisa menjadi tahap awal, namun mereka tidak bisa dan tidak seharusnya menggantikan bantuan professional, terutama apabila memang bantuan professional-lah yang dibutuhkan oleh kondisi kita saat ini,” pungkasnya.

Rasa Aman yang Tidak Sepenuhnya Pasti

Dari sisi pengguna, rasa aman dalam menggunakan jasa teman curhat ternyata tidak selalu utuh. Restu (27), salah satu pengguna, mengaku tetap menyimpan keraguan meski penyedia jasa mengklaim percakapan akan dihapus setelah sesi.

“Katanya sih dihapus setelah sesi. Tapi ya kami enggak pernah benar-benar tahu juga kan,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa kepercayaan terhadap layanan ini bersifat setengah-setengah. Di satu sisi merasa terbantu, namun di sisi lain tetap ada batasan dalam bercerita.

“Ya, percaya enggak percaya sih. Makanya saya juga tetap jaga cerita, enggak yang terlalu detail banget,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan Rakan (24). Ia mengaku sempat mempertanyakan keamanan layanan sebelum akhirnya mencoba. Meski merasa cukup nyaman karena tidak dihakimi, ia tetap menyadari bahwa layanan ini dijalankan oleh orang asing tanpa jaminan yang jelas.

“Setahu saya tidak, karena dari awal dia bilang tidak ada dokumentasi dan chat akan dihapus setelah sesi selesai,” ujarnya.

Namun, ia mengakui rasa waswas tetap ada.

“Tapi tetap ada sedikit rasa was-was karena ini orang asing,” ucapnya.

Advertisement