Tren

Trump Kembali Ancam Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran Jika Kesepakatan Tak Tercapai

Advertisement

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melancarkan ancaman tegas terhadap Iran, menyatakan kesiapan AS untuk menyerang infrastruktur sipil negara tersebut apabila Teheran menolak tawaran kesepakatan. Ancaman ini disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social.

“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik, dan setiap jembatan, di Iran,” tulis Trump.

Eskalasi ketegangan juga ditandai dengan laporan bahwa kapal berbendera Iran bernama Touska dicegat oleh pasukan AS di Teluk Oman. Trump mengungkapkan bahwa ruang mesin kapal tersebut dirusak, dan kapal itu diduga berupaya menembus blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sebelum akhirnya diambil alih oleh pasukan Amerika.

Menurut laporan Aljazeera pada Minggu (19/4/2026), tim negosiator AS dijadwalkan bertolak ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik antara AS dan Israel dengan Iran. Pembicaraan lanjutan ini direncanakan berlangsung pada hari berikutnya.

Trump tidak merinci pejabat yang akan dikirim dalam delegasi tersebut. Ia hanya menyebutkan bahwa putaran pertama perundingan sebelumnya, yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, berakhir tanpa mencapai kesepakatan. Trump juga menuding Iran melanggar gencatan senjata dua pekan yang akan berakhir pada Rabu (22/4/2026), dengan mengacu pada insiden tembakan di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026).

Negosiasi AS dan Iran Diliputi Ketidakpastian

Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran masih menghadapi jalan terjal dan diselimuti ketidakpastian. Teheran secara tegas menyatakan tidak akan bernegosiasi selama masih berada di bawah ancaman blokade Selat Hormuz yang diberlakukan oleh AS.

Sementara itu, Trump bersikukuh bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga Teheran menyetujui kesepakatan. Di sisi lain, perwakilan dari Lebanon dan Israel dijadwalkan kembali ke Washington, DC, pada Kamis (23/4/2026) untuk melanjutkan putaran perundingan berikutnya yang berfokus pada penyelesaian konflik.

Advertisement

Sebelumnya, Trump sempat mengumumkan putaran kedua negosiasi dengan Iran akan digelar di Pakistan pada Selasa (21/4/2026), menjelang berakhirnya masa gencatan senjata. Namun, Iran menolak partisipasi dan menuduh AS melakukan “pembajakan bersenjata” setelah penyitaan kapal tanker, sebuah insiden yang semakin memperkeruh ketegangan.

Mengutip laporan CNN pada Selasa (21/4/2026), Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui sejumlah poin penting dalam perundingan, termasuk isu-isu yang menurut sumber terkait belum sepenuhnya difinalisasi. Ia bahkan menyatakan Teheran telah menerima tuntutan paling sensitif dari AS, seperti penyerahan uranium yang diperkaya, dan memprediksi konflik akan segera berakhir.

Namun, pejabat Iran secara terbuka membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada persiapan untuk putaran negosiasi berikutnya. Penolakan ini meredam optimisme yang sempat muncul dan membuat arah pembicaraan damai menjadi tidak pasti. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump secara tertutup mengakui kepada CNN bahwa pernyataan publik presiden justru berpotensi merugikan proses diplomasi. Mereka berpendapat langkah tersebut memperdalam ketidakpercayaan Iran terhadap AS di tengah sensitivitas tinggi dalam negosiasi.

Situasi semakin kompleks dengan adanya dugaan perbedaan pandangan di internal Iran. Terdapat perbedaan antara tim negosiator yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kondisi ini menimbulkan ketidakjelasan mengenai pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan akhir dalam kesepakatan.

“Pihak Iran tidak menyukai Presiden AS yang bernegosiasi melalui media sosial dan membuat seolah-olah mereka telah menyetujui isu-isu yang belum mereka sepakati,” ujar seorang sumber yang mengetahui proses tersebut, seraya menambahkan bahwa Iran khawatir akan terlihat lemah di dalam negeri.

Dalam berbagai pernyataannya, Trump juga menyebut Iran telah menyetujui penangguhan program nuklir secara “tidak terbatas”, menerima seluruh tuntutan AS, dan memperkirakan kesepakatan bisa tercapai dalam satu hingga dua hari ke depan.

Advertisement