Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali menambah kekuatan intelektualnya dengan mengukuhkan lima guru besar baru dalam sidang terbuka yang digelar pada Senin (20/4/2026) di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Tangerang. Langkah ini menegaskan komitmen UPH dalam menghasilkan pakar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi konkret bagi kemajuan bangsa.
Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., menyatakan kebanggaannya atas penambahan lima profesor tetap, sehingga total profesor di UPH kini mencapai 45 orang. Ia melihat capaian ini sebagai anugerah sekaligus bukti nyata dedikasi UPH dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi UPH untuk terus berkembang dan memajukan pendidikan tinggi di Indonesia,” ujar Jonathan dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Ia juga mengajak seluruh sivitas akademika UPH untuk bersyukur dan menjadikannya motivasi untuk terus berkontribusi bagi bangsa.
Lima Pakar Baru UPH dan Kontribusi Intelektualnya
Kelima guru besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai disiplin ilmu, mencakup bidang pendidikan, hospitality dan pariwisata, ilmu politik, audit dan forensik keuangan, serta manajemen sumber daya manusia (SDM).
Mereka adalah:
- Prof. Dr. Ir. Drs. Khoe Yao Tung, MM., M.Kom., M.Sc.Ed., M.Ed., DTh. (Fakultas Pendidikan Pascasarjana)
- Prof. Dr. Juliana, S.E., M.M., CPHCM, CMSP, CCBM. (Fakultas Hospitality dan Pariwisata)
- Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.P.H., M.M., M.Si. (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
- Prof. Dr. Tanggor Sihombing, B.A., M.B.A. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
- Prof. Dr. Drs. Ardi, M.M.Si., Ak., CA. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
Strategi Antikorupsi Berbasis Pola Pikir
Salah satu orasi ilmiah yang menarik perhatian disampaikan oleh Prof. Dr. Drs. Ardi, M.M.Si., Ak., CA., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia. Melalui penelitiannya yang bertajuk “Embrace the Corruptor,” Prof. Ardi menawarkan pendekatan self-mindset development sebagai strategi pemberantasan korupsi.
Pendekatan ini menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan karakter individu, melengkapi perbaikan sistem dan penegakan hukum yang telah ada.
“Strategi antikorupsi yang holistik memerlukan pembentukan mindset, karakter, dan spiritualitas individu,” ujar Ardi. Ia menggarisbawahi peran vital self-awareness, self-determination, self-control, hingga self-mastery sebagai fondasi moral yang berlandaskan nilai Pancasila.
Pariwisata Inklusif dan Profesor Termuda
Di sektor pariwisata, Prof. Juliana memaparkan model Collaborative Inclusive Tourism Resilience Architecture (CITRA). Model ini mendorong kolaborasi antara masyarakat, wisatawan, budaya, dan teknologi melalui konsep co-creation experience, sebagai respons terhadap model pariwisata konvensional yang dinilai kurang menyentuh kesejahteraan masyarakat.
“Pembangunan pariwisata Indonesia bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi membangun ekosistem terpadu yang melibatkan pengalaman, kreativitas, dan partisipasi masyarakat,” ujar Juliana.
Prof. Juliana dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Manajemen Hospitality and Tourism berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Nomor 43610/M/KPT.KP/2025, terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Oktober 2025. Pencapaiannya semakin istimewa karena ia memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai profesor termuda di bidang ilmu manajemen perhotelan dan pariwisata di Indonesia.
Masa Depan Pendidikan: AI sebagai Mitra Guru
Prof. Dr. Ir. Drs. Khoe Yao Tung, M.M., M.Kom., mengupas tuntas tentang masa depan pendidikan, khususnya peran kecerdasan buatan (AI). Melalui penelitiannya tentang personalized learning dan AI, ia menampik kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan peran guru di ruang kelas.
“Future of learning is personalization learning. Penggunaan AI dalam desain pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk memahami proses belajar siswa secara lebih mendalam,” ucap Khoe.
Prof. Khoe menegaskan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu bagi guru untuk merancang pengalaman belajar yang lebih personal, adaptif, dan bermakna, bukan sebagai pengganti. Peran guru pun berevolusi dari penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar yang inklusif, relevan, dan berpusat pada siswa.
Prof. Khoe dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Pendidikan berdasarkan SK Mendiktisaintek Nomor 44683/M/KPT.KP/2025, TMT 1 Januari 2026.
Kekuasaan Politik dan Etika Bonum Commune
Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.P.H., M.M., M.Si., mengajak publik untuk kembali memahami makna kekuasaan melalui konsep bonum commune atau kebaikan bersama. Penelitiannya yang berjudul “Negara untuk Kebaikan Bersama (Bonum Commune): Sebuah Pencarian Makna Kekuasaan dalam Pemikiran Politik” menekankan bahwa kekuasaan seharusnya dimaknai sebagai tanggung jawab moral, bukan alat dominasi.
“Kekuasaan harus dijalankan secara etis, partisipasi publik perlu diperkuat, dan kepercayaan masyarakat menjadi dasar legitimasi demokrasi,” kata Thomas.
Ia menambahkan bahwa penerapan bonum commune dalam sistem demokrasi merupakan sebuah keharusan, demi menghadirkan kebaikan bersama yang nyata bagi Indonesia. Prof. Thomas dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Politik (Pemikiran Politik) berdasarkan SK Mendiktisaintek Nomor 43613/M/KPT.KP/2025, TMT 1 Oktober 2025.
Integritas Keuangan dan Peran Audit Forensik
Prof. Dr. Tanggor Sihombing, B.A., M.B.A., memberikan peringatan mengenai tingginya risiko informasi keuangan di era digital. Dalam penelitiannya yang berjudul “Laporan Keuangan: Peran Financial Audit dan Forensic Audit dalam Meningkatkan Kualitas Informasi Keuangan kepada Pengguna dalam Pembuatan Keputusan,” ia menjelaskan bahwa laporan keuangan rentan terhadap kesalahan dan kecurangan (fraud) akibat kompleksitas transaksi.
Menurut Prof. Tanggor, kualitas informasi keuangan sangat bergantung pada kompetensi, independensi, serta kemampuan auditor dalam memanfaatkan teknologi digital.
“Caranya adalah memperkuat sistem pengawasan internal, menegakkan hukum secara konsisten guna menciptakan efek jera, serta memperkuat peran lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi dalam menanamkan integritas melalui proses pendidikan yang holistik,” jelasnya mengenai cara menekan praktik fraud.
Prof. Tanggor dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Financial Audit and Forensic Audit berdasarkan SK Mendiktisaintek Nomor 1784/M/KPT.KP/2026, TMT 1 Januari 2026.
Apresiasi dari Tokoh Nasional dan LLDikti
Pengukuhan ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M., yang merupakan alumnus UPH. Ia mengaku bangga dan menilai UPH tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga karakter mahasiswa.
“UPH bukan sekadar institusi besar, tetapi sebuah kawah candradimuka. Saya merasakan bagaimana kecerdasan dan karakter dibentuk, disertai kasih serta dukungan yang luar biasa,” ujar Lestari.
Ia menekankan bahwa guru besar memiliki peran strategis sebagai penjaga nalar publik dan pengarah kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, yang harus hadir untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
“Hari ini adalah bukti bahwa UPH terus bertumbuh sebagai institusi yang tidak henti-hentinya menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., melalui tayangan video, menyebut pengukuhan lima guru besar secara bersamaan sebagai capaian yang luar biasa dan indikator kemajuan signifikan kualitas akademik UPH.
“Bagi kami di LLDikti Wilayah III, ini adalah pencapaian yang sangat menggembirakan. Kelima kepakaran ini menjadi amunisi intelektual yang luar biasa bagi UPH,” ucap Henri.
Ia berharap para guru besar dapat berperan aktif dalam membangun regenerasi akademisi serta menghadirkan dampak nyata bagi institusi, industri, dan masyarakat luas, sejalan dengan arah kebijakan Kemendiktisaintek.
Pengukuhan lima guru besar ini menegaskan peran UPH dalam melahirkan pemikiran strategis, inovasi ilmiah, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa melalui tenaga pendidik berkualitas, yang berkomitmen menyiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang profesional, kompeten, berdampak positif, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.






