Regional

Cerita Dedi, Pensiunan Guru Nyambi Tukang Las hingga Kuli Bangunan Naik Haji di Usia 71 Tahun

Advertisement

INDRAMAYU, KOMPAS.com – Di usianya yang ke-71 tahun, Dedi Supardi, pensiunan guru asal Desa/Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, akhirnya akan menunaikan ibadah haji pada tahun 2026. Perjalanan spiritual yang telah lama ia dambakan ini menjadi kenyataan setelah menanti selama bertahun-tahun, sebuah momen yang ia anggap sebagai keajaiban di tengah kekhawatiran akan faktor usia.

Tekad Dedi untuk mendaftar haji telah tertanam sejak tahun 2013, saat usianya menginjak 58 tahun. Keputusan ini diambilnya meski menyadari usianya yang tidak lagi muda, dengan pertanyaan besar di benaknya apakah fisik akan mampu bertahan hingga hari keberangkatan tiba. Namun, keyakinan yang kuat mendorongnya untuk tetap melangkah. Kini, penantian itu berujung pada kebahagiaan yang tak terhingga.

“Rasanya deg-degan, senang juga, ini pertama kali saya ke Tanah Suci. Kalau umrah, saya belum pernah, baru ini haji,” ujar Dedi saat ditemui di Asrama Haji Indramayu, Selasa (21/4/2026), dengan senyum penuh haru.

Bagi Dedi, ketakutan terbesar bukanlah menyangkut biaya, melainkan kondisi kesehatan. Sebagai mantan guru SMP, ia kerap menyaksikan rekan-rekannya yang jatuh sakit tak lama setelah pensiun. “Ketakutan saya itu takut kena penyakit. Soalnya yang lain-lain itu baru satu tahun pensiun ada yang sudah stroke, tapi alhamdulillah saya masih diberi kesehatan,” tuturnya.

Perjuangan Mengumpulkan Biaya Haji

Kisah Dedi menjadi semakin inspiratif ketika ia menceritakan bagaimana ia berjuang mengumpulkan rupiah demi melunasi biaya haji. Menyadari keterbatasan gaji pensiunan guru, Dedi tak ragu untuk merambah berbagai pekerjaan kasar. Ia memanfaatkan keahliannya dalam mengelas, membuka bengkel kecil, bahkan tak jarang menjadi kuli bangunan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Meskipun berstatus sebagai mantan pendidik, Dedi mengaku tidak pernah merasa malu harus bekerja keras di lapangan. Baginya, mencari rezeki yang halal adalah prioritas utama. “Kalau saya tidak malu, justru yang malu itu orang-orang yang menyuruh ke saya karena dulunya saya guru. Tapi, kata saya, tidak apa-apa saya mau mencari rezeki, yang penting halal,” terangnya.

Advertisement

Uang hasil jerih payahnya tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya biaya haji dapat dilunasi sepenuhnya.

Dampak Pandemi dan Penantian Panjang

Sejatinya, Dedi dan istrinya dijadwalkan berangkat haji pada tahun 2024. Namun, rencana tersebut harus tertunda dua tahun akibat dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan penundaan ibadah haji secara global. Penantian panjang ini justru dimanfaatkan Dedi untuk terus berdoa agar diberikan umur panjang dan kesehatan.

Doa tersebut akhirnya terjawab. Dedi dan istrinya kini resmi tergabung dalam Kloter 1 pemberangkatan haji tahun 2026. Hari ini, mereka bersama ratusan jemaah haji lainnya telah memasuki Asrama Haji Indramayu. Keesokan harinya, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci, terbang melalui Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka.

“Saya senang sekali, akhirnya tahun ini bisa benar-benar berangkat,” pungkasnya, tak dapat menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya.

Advertisement