CIREBON, KOMPAS.com – Di sudut Kota Cirebon, sebuah lahan seluas 3.000 meter persegi kini tak lagi gersang. Deretan tanaman hijau disiram air dari selang otomatis, diiringi gemericik air dan kesibukan warga mengurus kebun mereka. Pohon mangga berjejer rapi, pisang cavendish tumbuh subur, sementara petak-petak sayuran seperti bayam, kangkung, dan sawi siap dipanen. Kaum ibu terlihat sibuk menyemai benih, sementara para pria mengolah area kolam ikan. Kondisi ini sangat kontras dengan masa lalu lahan tersebut yang merupakan tempat pembuangan sampah.
Perubahan drastis ini berawal dari inisiatif Ida Farida Ramli, yang baru saja terpilih sebagai Ketua RW 15 Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, pada Desember 2022. Di awal masa jabatannya, Ida dihadapkan pada kenyataan minimnya anggaran dan program yang bisa segera dijalankan. Di tengah kebuntuan itulah muncul ide untuk menghidupkan lahan mati yang selama ini terbengkalai dan dipenuhi sampah.
“Terlintas mau bangun tempat ini jadi taman, saya sampaikan di rapat, tapi banyak yang tidak mendukung, pesimis, bahkan kalau kata orang Cirebonnya ‘obor blarak’, ramai di awal saja,” ujar Ida, menceritakan keraguan yang sempat menyelimuti idenya.
Keraguan tersebut beralasan, mengingat pengalaman warga sebelumnya dengan berbagai rencana yang tak kunjung terealisasi. Namun, Ida tidak patah arang. Ia berusaha mencari pemilik lahan, menanyai warga lama, hingga mendatangi kantor pertanahan. Setelah beberapa hari, izin penggunaan lahan akhirnya diperoleh.
Memulai dari Titik Nol: Mengubah Lahan Sampah Menjadi Taman
Langkah konkret pertama dimulai pada Maret 2023 dengan aksi bersih-bersih lahan. Tanpa banyak bicara, Ida bersama beberapa warga mulai mengangkut tumpukan sampah yang telah menggunung selama bertahun-tahun. Total ada 11 truk sampah yang berhasil dikeluarkan dari lokasi, berisi berbagai macam barang mulai dari kasur, lemari, sofa, hingga kloset. Meskipun memakan biaya jutaan rupiah di tengah kondisi tanpa anggaran, pekerjaan ini tetap diselesaikan.
Perubahan signifikan mulai terlihat setelah Ida menanam pohon mangga pertama pada 3 Mei 2023. Dibantu suaminya, tanah diolah kembali. Dalam hitungan bulan, hasil mulai tampak. Panen perdana menghasilkan 11 kilogram mangga dari 88 pohon. Angka ini mungkin belum besar, namun cukup untuk membuktikan bahwa lahan tersebut bisa kembali hidup.
Dari Keraguan Menjadi Kebanggaan Bersama
Sejak saat itu, perubahan bergerak lebih cepat. Pada tahun 2024, panen mangga meningkat menjadi 49 kilogram, dan diproyeksikan menembus lebih dari 100 kilogram pada tahun berikutnya. Tanaman pun semakin beragam, tidak hanya mangga, tetapi juga pisang cavendish, pepaya California, berbagai jenis sayuran, hingga tanaman herbal. Lahan tersebut bertransformasi menjadi ruang produksi yang lebih kompleks dengan pembangunan kolam ikan dan pemeliharaan ayam kampung. Hasilnya dinikmati bersama dan sebagian dijual kepada warga, membentuk sebuah ekosistem kecil yang produktif.
Perubahan tidak hanya terjadi pada lahan, tetapi juga pada semangat warga. Mereka yang awalnya ragu kini aktif terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut. Sekitar 47 orang secara rutin berpartisipasi dalam jadwal piket harian, mulai dari menanam, merawat, memanen, hingga menjual hasil. Kaum perempuan menjadi motor penggerak utama, dengan ketekunan yang terlihat dalam aktivitas mereka pagi dan sore hari.
“Puas mas, yang penting orang tidak ada yang buang sampah lagi di sini,” ujar Ida, mengungkapkan kepuasannya melihat perubahan tersebut.
Lahan yang dulunya dihindari kini menjadi pusat kegiatan warga. Warga yang sebelumnya mungkin tak saling mengenal, kini terjalin keakraban melalui kerja dan kebersamaan dalam merawat tempat tersebut. Di bawah terik matahari sore, aktivitas di Hortipark Agrigardina terus berjalan, menjadi bukti nyata bagaimana satu langkah kecil yang sempat diragukan mampu menumbuhkan tidak hanya tanaman, tetapi juga harapan dan ruang hidup baru bagi masyarakat.






