Regional

Dari Tukang Parkir ke Pemulung, Perjuangan Dewi Sartika Bertahan Hidup Seorang Diri di Bengkulu

Advertisement

BENGKULU, KOMPAS.com – Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, Dewi Sartika (46) mendorong gerobak kecilnya menyusuri Jalan Timur Indah, Kota Bengkulu. Pukul 09.20 WIB, matanya awas menyapu tepian jalan, mencari botol plastik, kardus bekas, atau apa pun yang bisa menambah pundi-pundinya. Dengan jilbab dan masker menutupi wajah, serta sandal tipis yang tak selalu melindungi dari panas aspal, langkahnya tetap mantap.

Rutinitas ini baru dijalani Dewi selama dua bulan terakhir. Sebelumnya, ia menggantungkan hidup sebagai tukang parkir selama empat tahun. Namun, beban setoran yang terus merangkak naik membuatnya tak mampu lagi bertahan.

“Saya baru dua bulan menjadi pengumpul barang bekas. Sebelumnya tukang parkir, selama empat tahun saya jadi tukang parkir namun karena setoran terus naik lama-lama saya tidak mampu lagi,” ujar Dewi.

Setoran harian yang awalnya Rp 50 ribu, perlahan membengkak menjadi Rp 100 ribu, bahkan Rp 150 ribu per hari. Kenaikan tersebut membuat Dewi tak lagi sanggup. “Saya tidak sanggup karena tidak dapat apa-apa lagi,” tuturnya.

Terpaksa Jual Televisi Demi Gerobak

Tanpa pemasukan yang memadai, Dewi dihadapkan pada pilihan sulit. Ia terpaksa menjual televisi satu-satunya di kontrakannya demi mendapatkan modal untuk gerobak. Hasil penjualan Rp 400 ribu cukup untuk membuat gerobak sederhana yang kini menjadi alat utamanya mencari nafkah.

“Saya tidak punya uang, sementara jadi pemulung perlu gerobak. Maka saya jual televisi untuk buat gerobak,” jelasnya.

Sejak pukul 06.00 WIB, Dewi sudah mulai berkeliling mengumpulkan barang bekas hingga siang hari. Dari hasil jerih payahnya, ia mampu mengumpulkan pundi-pundi sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per hari. “Gerobak kadang rusak, tapi tetap bersyukur pendapatan bisa membantu untuk makan dan bayar kontrakan,” katanya penuh syukur.

Perjuangan Wanita Sebatang Kara

Di sebuah kontrakan sederhana di Jalan Muhajirin 14, Dewi menjalani hidup seorang diri. Orang tua dan suaminya telah meninggal dunia, disusul kepergian sang anak lima tahun lalu. “Saya hidup sendiri, bertahan sendiri untuk hidup,” ujarnya lirih.

Advertisement

Keterbatasan administrasi kependudukan juga menjadi kendala. KTP-nya masih tercatat di kampung halaman, sehingga ia belum bisa mengakses bantuan sosial. Dewi berencana segera mengurus administrasi kependudukan agar dapat terdaftar di Kota Bengkulu.

“Mau saya urus KTP Kota Bengkulu, siapa tahu bisa dapat BPJS, bantuan sosial atau apa pun karena saya sangat membutuhkannya,” harapnya.

Harapan untuk Perempuan yang Terbatas

Di tengah keterbatasan hidupnya, Dewi menyimpan harapan besar, terutama bagi perempuan sepertinya. Meskipun tidak terlalu mengenal sosok Kartini, ia memahami esensi perjuangan perempuan untuk mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik.

“Banyak nasib perempuan seperti saya ini, menjadi miskin, tidak berdaya, tidak bisa berusaha, hanya menjadi pemulung,” ungkapnya.

Ia sangat berharap ada perhatian, pelatihan, dan bantuan modal dari pemerintah maupun pihak lain agar perempuan yang berada dalam keterbatasan dapat bangkit. “Kami mau berusaha, diajari, dimodali agar hidup kami menjadi lebih baik ke depan. Saat ini saya sebatang kara dengan masa depan tidak menentu,” pintanya.

Sesekali, warga yang melintas memberinya uang. Dewi dengan sabar menyimpannya di saku, untuk membeli beras dan sayur. “Untuk beli beras dan sayur makan siang nanti,” ucapnya.

Menjelang siang, Dewi kembali mendorong gerobaknya menuju tempat penjualan barang bekas. Di bawah terik yang kian meninggi, langkahnya tetap berjalan, perlahan namun penuh harap akan masa depan yang lebih baik.

Advertisement