Money

Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab

Advertisement

Harga ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak mandiri masih tertekan dan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dalam beberapa pekan terakhir, harga justru kembali mengalami penurunan, menambah beban finansial bagi para pelaku usaha unggas rakyat. Kondisi ini membuat banyak peternak kesulitan untuk menutupi biaya produksi yang terus meningkat.

Asep Saepudin, seorang peternak mandiri broiler asal Banten, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup ukuran 2,0 kilogram saat ini hanya berkisar antara Rp18.000 hingga Rp18.500 per kilogram. “Sudah hampir dua bulan harga belum pulih, malah sekarang turun lagi. Harga live bird nggak naik-naik,” ujar Asep kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan bahwa tingginya biaya pakan dan operasional semakin memperburuk keadaan. Asep berharap agar harga dapat segera naik, setidaknya melampaui harga pokok produksi (HPP), demi keberlanjutan usahanya.

Perlunya Penataan Struktur Industri Perunggasan

Dalam jangka panjang, Asep mendorong adanya perbaikan struktur industri perunggasan nasional. Ia mengusulkan pembagian porsi produksi yang lebih adil antara peternak rakyat dan perusahaan integrator. “Ke depan, porsi budidaya sebaiknya lebih banyak diberikan ke masyarakat, dengan pengaturan kekuatan pasar di tiap daerah,” jelasnya.

Menurut Asep, perusahaan integrasi juga perlu dibatasi kuotanya dan lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan rumah potong ayam (RPA) mereka. Ia menilai, tanpa keseimbangan yang lebih baik, mekanisme pasar bebas saat ini cenderung merugikan peternak skala kecil. “Kalau dibiarkan seperti sekarang, yang kuat akan terus menang. Harapannya harga bisa stabil, sehingga baik peternak mandiri maupun integrasi sama-sama bisa menikmati hasil,” tutupnya.

Kondisi Merata di Seluruh Pulau Jawa

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), Kusnan, membenarkan bahwa kondisi penurunan harga ini terjadi secara luas di seluruh Pulau Jawa. “Betul, harga ayam semakin tertekan di seluruh Pulau Jawa,” ujar Kusnan kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Berdasarkan data Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), harga broiler (live bird/kg) dari kandang peternak per Senin, 20 April 2026, menunjukkan stagnasi di level rendah di sebagian besar wilayah Jawa.

Advertisement

Rincian Harga Ayam Hidup per Wilayah di Jawa:

  • Banten: Rp 18.500 – Rp 19.500 per kg
  • Jawa Barat: Rp 18.000 – Rp 19.500 per kg
  • Jawa Tengah–DIY: Rp 18.000 – Rp 19.000 per kg
  • Jawa Timur: Rp 19.000 – Rp 19.500 per kg (beberapa daerah seperti Malang, Jember, dan Banyuwangi menyentuh Rp 20.000 per kg)

Di luar Jawa, harga ayam hidup menunjukkan variasi yang cukup lebar. Di Pulau Sumatera, harga berkisar Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per kg di wilayah seperti Palembang dan Lampung. Namun, di Aceh harga bisa mencapai Rp 26.000 per kg, dan di Belitung berkisar Rp 27.000 hingga Rp 28.000 per kg. Wilayah lain seperti Jambi, Bengkulu, dan Lubuk Linggau masih berada di kisaran Rp 18.500 hingga Rp 19.500 per kg.

Kawasan Indonesia Timur cenderung mencatat harga yang lebih tinggi. Di Kalimantan, harga ayam kecil bisa mencapai Rp 24.000 hingga Rp 25.000 per kg, sementara ayam besar berkisar Rp 18.500 hingga Rp 21.000 per kg. Di Sulawesi, harga bahkan lebih tinggi, seperti di Gorontalo yang berada di kisaran Rp 30.000–Rp 31.000 per kg dan Manado sekitar Rp 26.000 hingga Rp 27.000 per kg.

Di Bali dan Nusa Tenggara, harga juga bervariasi, mulai dari Rp 17.000 hingga Rp 18.500 per kg di Lombok hingga Rp 26.500 per kg di Kupang.

Kusnan menegaskan bahwa harga yang dihimpun tersebut adalah untuk ayam ukuran besar dengan bobot di atas 2 kilogram. Ia menyoroti ketimpangan harga antarwilayah yang masih cukup lebar, dengan tekanan terbesar justru terjadi di daerah produksi utama. “Ini untuk keseluruhan harga di semua daerah. Harga ini adalah untuk ayam ukuran besar bobot 2 kg ke atas,” tegasnya.

Suplai Berlebih Jadi Penyebab Utama

Sebelumnya, Kusnan telah menjelaskan bahwa penurunan harga ayam tidak semata-mata disebabkan oleh berakhirnya momentum Ramadhan dan Idul Fitri. “Penurunan harga ayam saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor pasca Lebaran. Berdasarkan data yang kami lihat, faktor utama adalah masih tingginya suplai ayam di pasar,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (5/4/2026).

Advertisement