Money

Literasi Keuangan Perempuan Turun, OJK Soroti Kesenjangan dengan Laki-laki

Advertisement

JAKARTA, CNN INDONESIA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti tren penurunan literasi keuangan di kalangan perempuan pada 2025, yang angkanya bahkan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Data terbaru ini menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu menjadi perhatian serius.

Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNILK) 2025 yang dirilis OJK bersama Badan Pusat Statistik, indeks literasi keuangan perempuan tercatat mengalami penurunan menjadi 65,6 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 66,75 persen.

Sementara itu, indeks literasi keuangan laki-laki relatif stabil di angka 67,32 persen. “Tahun 2025 angka indeks literasi perempuan, saya lihat catatannya adalah turun literasinya, turun sedikit dibanding tahun sebelumnya,” ujar Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, dalam Webinar Perayaan Hari Kartini 2026, Selasa (21/4/2026).

Kesenjangan Pemahaman, Namun Akses Nyaris Setara

Meskipun pemahaman literasi keuangan perempuan mengalami penurunan, catatan OJK menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan mereka justru hampir menyamai laki-laki. Indeks inklusi keuangan perempuan tercatat sebesar 80,28 persen, sementara laki-laki berada di angka 80,73 persen.

Ismail menjelaskan bahwa indeks literasi mengukur tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Sementara itu, indeks inklusi mengukur seberapa besar masyarakat memiliki akses dan memanfaatkan layanan keuangan.

“Ini kita menunjukkan bahwa secara umum hasil survei ini menunjukkan masih ada gap yang besar antara pemahaman terhadap aspek literasi keuangan dan dibanding dengan ke inklusi,” tegasnya.

Advertisement

Peran Perempuan dalam Keuangan Keluarga dan Ancaman Digital

OJK terus berupaya mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan bagi perempuan. Salah satu program yang digalakkan adalah Gerakan Nasional Cerdas Keuangan, yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Ismail menekankan pentingnya literasi keuangan bagi perempuan, mengingat peran mereka yang seringkali sentral dalam pengelolaan keuangan keluarga. Pemahaman yang memadai sangat krusial agar perempuan dapat mengenali dan terhindar dari produk keuangan ilegal yang kian marak, terutama di era digital.

“Ada pinjol ilegal, ada judol, ada berbagai aktivitas keuangan ilegal termasuk penipuan. Ini adalah tantangan. Karena kita tahu bahwa salah satu segmen terbesar yang juga menjadi korban adalah para perempuan,” ungkapnya.

Perkembangan Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional

Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan nasional pada 2025 mencapai 66,46 persen. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 65,43 persen.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan nasional juga mengalami kenaikan signifikan, dari 75,02 persen pada 2024 menjadi 80,51 persen pada 2025.

Advertisement