Regional

Perjuangan Maria Sekolahkan Anak hingga Kuliah, Kini Mengungsi akibat Erupsi Lewotobi

Advertisement

FLORES TIMUR, KOMPAS.com – Senyum tipis terulas di wajah Maria Magdalena Mulan (50) saat menceritakan perjuangannya membesarkan ketiga anaknya setelah sang suami, seorang pegawai negeri sipil, meninggal dunia pada tahun 2017. Di tengah kepedihan, Maria harus memikul tanggung jawab penuh untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya di Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

“Anak saya tiga orang. Satu sudah berkeluarga, satu kuliah, dan satunya lagi merantau di Jakarta,” ujar Maria kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026), sembari matanya menerawang ke kejauhan.

Meskipun ada gaji pensiun mendiang suami, Maria menyadari itu tidak serta-merta cukup untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Ia pun tak ragu mengais rezeki dari hasil kebun yang ditanami kemiri dan kelapa. Tak jarang, ia juga turun tangan mencari sayuran di hutan untuk dijual kepada tetangga. “Dulu saya biasa jual sayur pare. Saya cari di hutan kemudian jual,” kenangnya.

Ketekunan Maria tak berhenti di situ. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan ibu-ibu di lingkungannya. Pernah terlintas untuk membuka usaha kue, namun ia urungkan niatnya karena menyadari persaingan yang semakin ketat. “Tapi sekarang saya sudah berhenti karena sudah banyak yang buka usaha kue,” tuturnya.

Ujian Baru di Tengah Ketangguhan

Namun, takdir kembali menguji ketangguhan Maria. Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada Desember 2023 lalu menjadi babak baru dalam hidupnya. Semburan abu vulkanik disertai lontaran batu pijar yang mengarah ke permukiman warga, serta aliran lava yang meluncur ribuan meter, memaksa ribuan warga, termasuk Maria, mengungsi. Rumahnya tak luput dari kerusakan.

Advertisement

“Kami sangat panik saat itu, situasi sangat mencekam,” ungkap Maria, suaranya bergetar menahan getir.

Kini, Maria dan ribuan penyintas lainnya berlindung di hunian sementara Konga. Meski harus meninggalkan rumah dan segala kenangan di dalamnya, Maria tetap mengucap syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan. Baginya, di setiap kesulitan pasti selalu ada jalan.

Perjuangan Maria untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang kuliah kini harus dibarengi dengan perjuangan untuk bangkit dari bencana. Ia berharap, seperti sebelumnya, ketangguhannya akan kembali membawanya melewati badai ini.

Advertisement