JAKARTA, KOMPAS.com – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mempertegas komitmen investasi jangka panjangnya di Tanah Air dengan mengalokasikan dana sebesar Rp 20 triliun untuk periode 2025 hingga 2029. Alokasi dana ini mencakup pengembangan kendaraan elektrifikasi, salah satunya melalui proyek baterai mobil hybrid.
Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, menyampaikan bahwa rencana investasi ini telah disampaikan langsung oleh manajemen global Toyota kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam pertemuan di Jepang belum lama ini. “Yang kemarin waktu CEO kami bertemu dengan Presiden Prabowo di Jepang, disampaikan bahwa sampai dengan periode 2025–2029 itu Rp 20 triliun. Ini (proyek baterai) salah satu realisasinya,” ujar Nandi di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Realisasi Awal Proyek Baterai
Salah satu langkah awal realisasi investasi tersebut adalah pengembangan baterai untuk mobil hybrid yang digarap bersama perusahaan teknologi global, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL). Untuk proyek strategis ini, Toyota menggelontorkan dana sekitar Rp 1,3 triliun yang bertujuan untuk memperkuat kapabilitas produksi baterai di dalam negeri.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menekankan bahwa nilai investasi di sektor manufaktur tidak dapat diukur semata-mata dari besaran nominalnya. Ia menilai dampak ekonomi yang lebih luas menjadi kontribusi utama.
“Investasi di sektor manufaktur tidak bisa disamakan dengan sektor lain. Manufaktur itu menyerap tenaga kerja. Jadi walaupun kelihatannya tidak terlalu besar, multiplier effect-nya besar,” jelas Bob.
Dampak yang dimaksud mencakup berbagai aspek, mulai dari penyerapan tenaga kerja, kontribusi terhadap penerimaan negara melalui pajak, hingga peningkatan devisa negara melalui ekspor.
“Tenaga kerja yang direkrut, kemudian juga memberikan pemasukan ke pemerintah dari pajak, lalu ekspor yang menciptakan revenue dan employment. Itu harus dilihat sebagai satu kesatuan,” imbuhnya.
Dorong Investor Eksisting di Tengah Tantangan Ekonomi
Dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang penuh tantangan, Bob Azam menilai penting untuk memberikan dukungan kepada investor yang telah lama beroperasi di Indonesia. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan upaya menarik investor baru yang kerap membutuhkan berbagai insentif.
“Kalau investor baru masuk pasti butuh fasilitas seperti tax holiday. Dalam situasi seperti sekarang, yang perlu didorong justru existing investor,” kata Bob.
Ia menambahkan bahwa investasi pada mesin dan teknologi baru juga merupakan keniscayaan yang membutuhkan biaya tidak sedikit. “Sementara yang namanya mesin dan teknologi harus terus diperbarui, dan investasinya tidak sedikit,” ujarnya.
Oleh karena itu, proyek baterai yang sedang berjalan tidak hanya diharapkan memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri otomotif di masa depan. “Memang nilainya Rp 1,3 triliun, tapi harus dilihat multiplier effect-nya. Ada tenaga kerja, pengembangan keahlian di bidang baterai, potensi ekspor, sampai ke R&D,” pungkas Bob.






