Regional

Trauma Warga Padang Pariaman Hadapi Longsor Besar, Kini Andalkan Alat Peringatan Dini

Advertisement

PADANG PARIAMAN, KOMPAS.com — Trauma mendalam masih membayangi warga Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, pascabencana longsor besar yang terjadi pada Jumat, 28 November 2025. Peristiwa yang dipicu hujan deras sejak petang itu meninggalkan luka dan kekhawatiran yang mendalam, membuat warga kini lebih mengandalkan sistem peringatan dini untuk keselamatan.

Rasiman (60), salah seorang warga Kampung Pondok, masih menyimpan ingatan jelas tentang malam yang mengubah lanskap kampungnya. Ia menceritakan, tanda-tanda longsor sebenarnya sudah terlihat sehari sebelum bencana besar melanda. “Kamis sekitar pukul 19.00 WIB sudah ada longsor kecil. Itu jadi tanda awal,” ujarnya saat ditemui, Selasa (21/4/2026).

Kekhawatiran warga mulai memuncak pada dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, keputusan untuk mengungsi diambil. “Kami mengungsi. Ada yang ke mushala, ada juga ke rumah tetangga di kampung sebelah,” kata Rasiman.

Langkah cepat ini terbukti krusial. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 06.15 WIB, longsor susulan dengan kekuatan lebih besar menerjang, menghanyutkan material tanah dan air yang menghantam permukiman. “Tiga rumah tidak bisa ditempati lagi. Kami tidak berani kembali selama beberapa hari,” ungkapnya.

Meskipun rumahnya hanya mengalami kerusakan pagar, Rasiman bersyukur bangunan utama masih kokoh. Namun, ia tidak bisa melupakan nasib tetangganya yang kehilangan tempat tinggal. Asma Neri (60), warga Kampung Pondok lainnya, menambahkan bahwa malam itu diwarnai kepanikan namun juga solidaritas warga. “Pemuda dan aparat datang memberi tahu bahwa sudah ada tanda longsor. Kami diminta segera mengungsi,” tuturnya.

Bersama keluarganya, Asma segera berkemas dan meninggalkan rumah sekitar pukul 02.00 dini hari. “Rumah sudah kosong saat longsor besar terjadi,” katanya. Keselamatan berhasil diraih, namun trauma tetap menyisakan kecemasan. “Kalau hujan, saya biasanya pergi ke tempat yang lebih aman. Kami juga pernah tidur bergantian untuk berjaga-jaga,” ujar Asma.

Bagi Asma, bencana kali ini merupakan yang terparah selama puluhan tahun tinggal di Pasie Laweh. “Sejak kecil sampai sekarang, belum pernah separah ini,” katanya.

Bencana Besar yang Jadi Titik Balik

Wali Nagari Pasie Laweh, Peri Adinur, menjelaskan bahwa rangkaian bencana sebenarnya telah dimulai sejak 23 November dengan meluapnya Batang Anai. Kondisi memburuk pada 26 dan 27 November, memuncak pada tanggal tersebut. Banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah, termasuk Korong Tanah Taban, Sakayan, dan Kampung Pondok. Ketinggian air bahkan mencapai atap rumah, dan di bangunan bertingkat dua, air setinggi pinggang orang dewasa di lantai dua.

Sekretaris Nagari Pasie Laweh, Atriadi, menambahkan bahwa derasnya arus air membawa material galodo yang memperparah kondisi. Tanggul pengaman terkikis dan rusak, satu rumah hanyut, dan rumah lainnya tertimbun total sehari setelahnya. Meskipun banjir luapan kerap terjadi, bencana kali ini jauh lebih besar karena disertai longsor. “Ini salah satu yang terbesar yang pernah terjadi di Pasie Laweh,” katanya.

Beberapa faktor disebut menjadi penyebab, termasuk curah hujan tinggi dan berkurangnya vegetasi yang mengurangi daya serap tanah. Pendangkalan sungai juga mempercepat luapan air saat hujan deras.

Advertisement

Upaya Pemulihan dan Dilema Warga

Pascabencana, warga perlahan bergerak menuju pemulihan, namun rasa was-was belum hilang. Sebagian warga memilih mengontrak rumah di lokasi aman, didukung Dana Tunggu Hunian (DTH) dari pemerintah. Bantuan juga diberikan untuk hunian sementara bagi yang rumahnya rusak parah. “Untuk yang rumahnya rusak parah, ada yang dibuatkan hunian sementara. Ada juga bantuan Rp 600.000 per bulan selama enam bulan untuk biaya kontrakan,” kata Atriadi.

Namun, tidak semua warga mudah meninggalkan tempat tinggal. “Sebagian besar tanah ini adalah warisan dan sumber penghidupan. Jadi tidak mudah untuk pindah,” ujar Peri. Dilema antara bertahan di tanah sendiri atau mencari tempat aman pun muncul.

Mengandalkan Sistem Peringatan Dini

Di tengah situasi ini, upaya mitigasi diperkuat. Mahasiswa dan dosen Universitas Negeri Padang (UNP) melalui program pengabdian masyarakat memperkenalkan sistem peringatan dini longsor atau Early Warning System (EWS) bernama SIPENDIL.

Ketua pelaksana program, Muhammad Fahrur Rozi, menjelaskan bahwa SIPENDIL memantau intensitas hujan dan memberikan indikator status dari Normal, Waspada, Siaga, hingga Awas. Alat ini terintegrasi dengan penakar hujan dan sistem pemrosesan data real-time. Ketika curah hujan mencapai ambang batas tertentu (50 mm untuk Waspada, 70-90 mm untuk Siaga, di atas 90 mm untuk Awas), alat akan memberikan peringatan melalui lampu indikator dan sirine.

“Fungsinya untuk memberi waktu kepada masyarakat agar bisa segera melakukan evakuasi sebelum bencana terjadi,” kata Rozi. Program ini juga mencakup pemetaan wilayah rawan longsor, pemasangan rambu evakuasi, dan pelatihan mitigasi bencana.

Belajar dari Bencana

Bagi warga, kehadiran alat ini menjadi penanda perubahan menuju kesiapsiagaan. Rasiman awalnya ragu, namun setelah mendapat penjelasan, ia memahami cara kerja SIPENDIL. “Sekarang kami tahu, kalau hujan sudah mencapai batas tertentu, harus segera waspada,” ujarnya.

Asma berharap sistem peringatan dini ini mencegah keterlambatan penyelamatan. “Semoga kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi. Alat ini sangat membantu,” katanya.

Wali Nagari Peri Adinur menilai pemasangan EWS sebagai langkah penting membangun ketangguhan masyarakat. “Harapannya masyarakat tidak hanya takut, tetapi juga mampu mengantisipasi. Dengan begitu, risiko korban bisa ditekan,” ujarnya.

Kini, warga Pasie Laweh tidak lagi sepenuhnya menunggu dalam ketidakpastian. Mereka belajar membaca tanda alam dan bersiap, sebelum bencana kembali datang.

Advertisement