JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta agar seremonial pelepasan keberangkatan jamaah calon haji di daerah tidak berlebihan dan memakan waktu terlalu lama. Imbauan ini disampaikan untuk menjaga kebugaran para calon jamaah, terutama mengingat banyaknya lansia, jamaah berisiko tinggi, dan penyandang disabilitas yang membutuhkan istirahat sebelum menempuh perjalanan panjang ke Tanah Suci.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, menekankan pentingnya mengurangi acara seremonial di daerah masing-masing. “Mohon jangan terlalu banyak seremonial di daerahnya masing-masing terkait dengan pelepasan jamaah, supaya kemudian jamaah tidak banyak lama menunggu, tidak letih karena seremonial yang terlalu banyak itu menyebabkan jamaah mudah letih,” ujar Dahnil di Jakarta, Rabu (22/4/2026), seperti dikutip dari Antara.
Praktik pelepasan jamaah calon haji di Indonesia memang kerap diwarnai dengan berbagai seremoni, baik di tingkat kabupaten/kota maupun di embarkasi. Bahkan, beberapa acara pelepasan dilaporkan terjadi berulang kali, yang dikhawatirkan memberatkan para calon haji.
Demi menjaga kondisi fisik para calon haji agar tetap prima selama perjalanan ibadah, Wamenhaj kembali menegaskan permintaan untuk efisiensi acara. “Mohon dipahami supaya bisa kurangi acara-acara seremonial di daerah terkait dengan pelepasan jamaah,” pinta Dahnil.
Sebelumnya, pada Rabu (22/4/2026), sebanyak 391 calon haji Indonesia dari kelompok terbang (kloter) pertama Embarkasi Pondok Gede Jakarta (JKG 1) telah diberangkatkan menuju Tanah Suci. Ratusan jamaah tersebut terbang menuju Madinah melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, sekitar pukul 00.45 WIB menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Keberangkatan kloter JKG 1 ini menandai dimulainya operasional misi haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.






