Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tidak akan dicabut sebelum tercapainya sebuah kesepakatan dengan Teheran. Pernyataan ini muncul di tengah situasi gencatan senjata yang akan segera berakhir pada Rabu, 22 April 2026, dengan ketidakpastian mengenai kelanjutan pembicaraan damai.
“Blokade yang dimulai seminggu lalu ini benar-benar menghancurkan Iran,” klaim Trump melalui unggahan di platform media sosial Truth Social. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat telah memenangkan konflik tersebut dengan selisih yang signifikan.
Belum ada kepastian apakah perundingan perdamaian putaran kedua akan digelar di Pakistan. Ibu kota negara tersebut dilaporkan telah memperketat keamanan sebagai persiapan. Namun, Wakil Presiden AS JD Vance, yang dijadwalkan memimpin delegasi AS, dilaporkan belum meninggalkan Washington, sementara Iran pun belum mengonfirmasi kehadirannya.
AS Klaim Blokade Efektif, Iran Sebut ‘Pembajakan’
Menurut laporan BBC pada Selasa (21/4/2026), Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan bahwa sejak blokade diberlakukan, pasukan AS telah berhasil mengarahkan 27 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran.
Lebih lanjut, AS juga dilaporkan mencegat dan menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran pada Minggu (19/4/2026) setelah kapal tersebut mencoba menerobos blokade. Video yang dirilis Centcom menunjukkan adanya peringatan sebelum pasukan AS menaiki kapal tersebut.
Pihak Teheran menanggapi tindakan ini sebagai “tindakan pembajakan” dan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlaku antara kedua negara. Sebelumnya, Iran sendiri telah menerapkan blokade di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang berlangsung hampir dua bulan dan memicu lonjakan harga energi global. Jalur tersebut sempat dibuka kembali pada Sabtu (18/4/2026) namun kembali ditutup menyusul laporan adanya penargetan terhadap kapal-kapal, termasuk tanker, di dekat selat itu.
Trump sendiri menuduh Iran telah melanggar perjanjian gencatan senjata secara total dengan melakukan penembakan. Iran, di sisi lain, menegaskan akan terus menutup jalur tersebut hingga AS menghentikan blokade pelabuhannya.
Iran Enggan Bernegosiasi di Bawah Ancaman
Di tengah ketegangan tersebut, muncul indikasi bahwa putaran kedua perundingan perdamaian antara AS dan Iran mungkin akan tetap dilanjutkan. Setelah putaran pertama yang digelar awal bulan ini, Wakil Presiden AS JD Vance sempat menyatakan bahwa AS belum mampu mencapai kesepakatan yang dapat diterima Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran sendiri telah mendesak Washington untuk menahan diri dari tuntutan yang berlebihan dan melanggar hukum. Putaran kedua perundingan ini dinilai krusial. Sumber-sumber pada Senin (20/4/2026) sore menginformasikan bahwa delegasi AS akan segera berangkat, meskipun waktu pastinya belum diumumkan. Sementara itu, para pejabat AS menyatakan keberangkatan pada Selasa (21/4/2026).
Dilansir dari Al Jazeera pada Selasa (21/4/2026), Teheran menyatakan sikap tegasnya untuk tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman dari Amerika Serikat.
Keamanan Ditingkatkan di Pakistan Menjelang Perundingan
Di Islamabad, Pakistan, tempat perundingan putaran pertama diadakan, para tamu di Hotel Serena telah diminta untuk meninggalkan lokasi sebagai persiapan kedatangan delegasi. Pihak kepolisian setempat juga mengumumkan penutupan sejumlah jalan utama untuk mengantisipasi kedatangan delegasi asing.
Seorang pejabat senior pemerintah Pakistan kepada Reuters menyatakan keyakinan negaranya dapat membujuk Iran untuk hadir dalam pembicaraan tersebut. Blokade jalan telah dipasang menuju hotel yang diperkirakan menjadi lokasi pertemuan.
Lyse Doucet, Kepala Koresponden Internasional BBC yang berada di Teheran, menilai situasi masih belum dapat diprediksi, namun peluang terjadinya pembicaraan tetap terbuka. “Ada satu aturan dalam diplomasi, yaitu, Anda tidak ingin menjadi orang yang disalahkan ketika sesuatu gagal. Jika JD Vance berada di Islamabad, akan sangat sulit bagi Iran untuk tidak muncul,” ujar Doucet.
Ia menambahkan, “Dan saya rasa saluran telepon sedang sibuk dengan orang-orang Pakistan yang berusaha memastikan kedua belah pihak sampai di sana, karena tempatnya sudah siap, keamanannya sudah diberlakukan, mereka hanya menunggu tim-tim tiba.”






