PADANG, KOMPAS.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas elpiji non-subsidi yang berlaku sejak Sabtu, 18 April 2026, mulai menimbulkan kekhawatiran serius di Sumatera Barat. Kebijakan ini diprediksi akan memicu efek domino, mulai dari lonjakan biaya logistik hingga penurunan daya beli masyarakat.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Barat, Buchari Bachter, menyatakan bahwa sektor industri adalah pihak pertama yang paling merasakan dampak kenaikan ini. Mayoritas mesin produksi dan armada angkutan perusahaan sangat bergantung pada BBM non-subsidi.
“Ketika harga merangkak naik, maka biaya produksi otomatis akan membengkak. Ini adalah rumus pasar yang sulit dihindari,” ujar Buchari saat dihubungi, Selasa, 21 April 2026.
Logistik Jadi Penentu Harga Barang
Buchari menjelaskan bahwa biaya logistik merupakan komponen terbesar dalam struktur harga produk di tingkat konsumen. Kenaikan ongkos angkut, menurutnya, mustahil tidak mempengaruhi harga jual barang di pasar.
Sektor-sektor yang sangat bergantung pada mobilitas, seperti pangan dan material bangunan, diprediksi akan mengalami penyesuaian harga dalam waktu dekat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya inflasi tinggi di wilayah Sumatera Barat.
“Apapun yang berkaitan dengan minyak akan menjadi mahal. Perlu langkah antisipasi segera agar tidak terjadi guncangan ekonomi yang hebat,” katanya.
Strategi Pengusaha: Efisiensi atau “Sunat” Volume
Sebagai langkah mitigasi agar bisnis tetap berjalan, Buchari menyarankan para pelaku usaha untuk melakukan efisiensi ketat. Salah satu strategi yang mungkin diambil adalah menyesuaikan spesifikasi atau mengurangi volume produk agar harga tetap terjangkau. Namun, strategi ini memiliki batas maksimal.
Jika beban operasional terus naik, kenaikan harga di tingkat konsumen menjadi pilihan terakhir yang tidak terelakkan. “Tantangan besarnya adalah menjaga roda ekonomi tetap berputar. Jika harga naik terlalu tajam, daya beli masyarakat akan lesu,” katanya.
Realita di Lapangan: Antrean Solar Mengular
Dampak kenaikan harga ini mulai terlihat nyata di sejumlah SPBU di Kota Padang. Di SPBU Marapalam, misalnya, antrean kendaraan yang mengonsumsi Biosolar tampak mengular hingga keluar area pengisian.
Fenomena ini terjadi akibat banyaknya pengguna kendaraan diesel yang sebelumnya menggunakan Dexlite kini beralih ke BBM subsidi. Sastia, seorang operator SPBU, mengungkapkan bahwa konsumsi Dexlite menurun drastis.
“Biasanya mobil seperti Innova rutin isi Dexlite. Sekarang sudah sangat jarang. Dalam dua hari terakhir, tercatat hanya satu kendaraan yang mengisi Dexlite di sini,” kata Sastia, Senin, 20 April 2026.
Jeritan Pengguna Kendaraan
Para pemilik kendaraan pribadi pun mulai mengubah perilaku konsumsinya. Adi (51), pemilik Mitsubishi Pajero Sport, mengaku kini tak lagi berani mengisi penuh tangki kendaraannya. Dengan harga baru, mengisi penuh tangki mobil berkapasitas 68 liter bisa merogoh kocek hingga Rp 1,6 juta.
“Sekarang saya ngirit-ngirit saja, biasanya isi penuh, sekarang cuma setengah. Itu pun sudah habis sekitar Rp 800.000,” tutur Adi.
Sejumlah pelaku usaha makanan mengaku kaget dengan lonjakan harga, meski sebagian masih menggunakan stok lama dan belum membeli dengan harga terbaru. Salah satunya datang dari pelaku usaha kuliner Aneka Rendang Asese, Restu, yang belum mengetahui pasti kenaikan harga tersebut karena masih memakai gas yang dibeli beberapa hari lalu.
“Saya masih pakai gas stok empat hari lalu, waktu itu untuk gas ukuran 12 kilo masih sekitar Rp 180 ribu sampai Rp 194 ribu,” ujarnya kepada Kompas.com.
Meski belum merasakan langsung kenaikan, Restu mengaku sudah mendengar informasi tersebut dan mulai mengantisipasi dampaknya. Setiap hari, usahanya menghabiskan sedikitnya delapan tabung gas ukuran 12 kilogram untuk memasak rendang. Menurutnya, kenaikan harga gas berpotensi memengaruhi harga jual makanan jika berlangsung terus-menerus.
Faktor Global dan Ketidakpastian
Kenaikan harga BBM ini disinyalir sebagai langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal dari ancaman defisit anggaran. Namun, Buchari Bachter juga menyoroti pengaruh ketegangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran.
“Kita khawatirkan kelangkaan minyak akibat perang. Gejolak global ini belum pasti kapan berakhir, dan ketidakpastian inilah yang harus kita waspadai dampaknya terhadap ekonomi nasional,” katanya.






