Harga emas dunia anjlok lebih dari 2 persen pada akhir perdagangan Selasa (21/4/2026) waktu setempat, atau Rabu (22/4/2026) pagi WIB. Penurunan ini terjadi seiring dengan penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, di tengah antisipasi pembicaraan antara AS dan Iran.
Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot tercatat merosot 2,2 persen menjadi 4.712,04 dollar AS per ons. Angka ini merupakan posisi terendah dalam lebih dari sepekan terakhir.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni juga mengalami pelemahan, tergelincir 2,3 persen ke level 4.719,60 dollar AS per ons.
Faktor Pendorong Penurunan Harga Emas
Pada perdagangan sebelumnya, Dolar AS menunjukkan penguatan sebesar 0,2 persen. Kondisi ini secara otomatis membuat emas menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lain.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun juga mengalami peningkatan. Kenaikan ini menekan daya tarik emas sebagai aset yang dikenal tidak memberikan imbal hasil.
“Penguatan Dolar AS dan imbal hasil menekan harga emas, bersamaan dengan berita dan sinyal yang beragam tentang situasi Iran, yang menyebabkan harga energi naik, sehingga menekan harga logam mulia,” ujar Bob Haberkorn, Analis pasar senior RJO Futures.
Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ingin memperpanjang gencatan senjata dengan Iran yang akan segera berakhir. Trump juga menegaskan kesiapan militer AS jika negosiasi menemui kegagalan.
Pernyataan tersebut sontak mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 3 persen. Kenaikan harga minyak sejak pecahnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu telah memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi.
Kondisi ini berpotensi membuat bank-bank sentral global memilih untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Meskipun emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi, namun permintaan terhadap logam mulia ini cenderung melemah ketika suku bunga global berada pada level tinggi.
Perhatian Pasar pada The Fed
Di sisi lain, pelaku pasar juga memberikan perhatian khusus pada sidang konfirmasi di Senat AS terkait pencalonan Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Dalam pernyataan sebelumnya, Warsh telah menyerukan perlunya perubahan besar di bank sentral, termasuk pendekatan baru dalam mengendalikan inflasi serta perombakan komunikasi kebijakan moneter.
“Pasar akan mencermati secara saksama setiap pernyataan Warsh karena berpotensi memicu volatilitas tinggi dalam jangka pendek,” tambah Haberkorn.
Logam Mulia Lainnya Ikut Tertekan
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga dilaporkan mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan yang sama.
- Harga perak di pasar spot turun 3,9 persen menjadi 76,76 dollar AS per ons.
- Platinum melemah 2,7 persen ke level 2.033,37 dollar AS per ons.
- Paladium turun 0,6 persen menjadi 1.541,56 dollar AS per ons.






