Regional

Harga Minyak Goreng dan Kedelai Naik, Ukuran Tahu di Banyuasin Makin Kecil

Advertisement

BANYUASIN – Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Banyuasin dan Palembang, Sumatera Selatan, menghadapi dilema berat akibat lonjakan harga bahan baku produksi yang terjadi bertahap sejak awal April 2026. Kombinasi kenaikan harga kedelai, minyak goreng, hingga bahan pendukung seperti kantong plastik memaksa para perajin untuk mencari strategi agar usaha mereka tetap bertahan.

Bagi perajin tahu, pilihan pahit yang harus diambil adalah mengecilkan ukuran produk demi menjaga kelangsungan usaha di tengah kenaikan biaya produksi.

Kenaikan Bahan Baku Tahu Membebani Perajin

Rajab, pemilik usaha tahu goreng di Pasir Putih, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku inti telah sangat membebani.

Saat ini, harga kacang kedelai telah mencapai Rp 10.700 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 10.000. Kondisi ini diperparah dengan harga minyak goreng curah yang melonjak hingga melampaui Rp 20.000 per kilogram.

Rajab menyoroti dampak ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang turut berpengaruh pada usahanya.

“Faktor ekonomi global dan ketegangan Iran dengan AS-Israel ternyata berdampak sampai ke kami pelaku UMKM. Bukan hanya bahan inti, harga kantong plastik pun ikut naik, sehingga biaya pengeluaran semakin membengkak,” ujar Rajab, Selasa (21/4/2026).

Meski demikian, Rajab masih menjual tahu goreng seharga Rp 400 per buah. Ia mengaku belum bisa menaikkan harga jual karena harus menunggu kesepakatan bersama antarperajin di wilayah tersebut.

“Solusinya, sedikit mengecilkan ukuran. Kalau tidak seperti itu, tidak bisa lagi dapat untung. Sekarang, semuanya susah serba mahal dan naik,” ungkapnya.

Kelangkaan Minyakita dan Kenaikan Harga di Palembang

Kondisi serupa juga dirasakan di Palembang, di mana pelaku usaha kuliner mengeluhkan sulitnya mendapatkan minyak goreng subsidi merek Minyakita.

Reni Novianty Refly, pemilik Kedai Siru, menyebutkan harga minyak goreng premium per kardus isi 24 kemasan telah melonjak dari Rp 471.000 menjadi Rp 494.000.

“Naiknya sedikit-sedikit tapi sudah tiga kali terjadi, jadi terasa berat juga. Plastik naik, minyak naik, sementara kami belum bisa menaikkan harga jual makanan ke konsumen,” keluh Reni.

Advertisement

Sementara itu, Wita, pemilik Bake Wita, memilih strategi berburu promo di pusat perbelanjaan untuk menekan biaya produksi. Melalui cara ini, ia bisa mendapatkan harga minyak goreng sekitar Rp 38.000 per 2 kilogram.

Penyebab Lonjakan Harga Minyak Goreng

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Selatan, Ruzuan Efendi, memaparkan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh beberapa faktor.

Faktor utama adalah kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) global yang diproyeksikan menembus Rp 18.776 per kilogram pada April 2026, salah satunya dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

“Lonjakan harga bahan baku Crude Palm Oil (CPO) menjadi faktor utama. Pada April 2026, harga CPO diproyeksikan mencapai Rp 18.776 per kilogram, salah satunya dipicu konflik di Timur Tengah,” jelas Ruzuan.

Faktor lain yang turut berpengaruh meliputi gangguan di jalur pelayaran internasional seperti Selat Hormuz, kenaikan harga bijih plastik global yang memicu harga kemasan naik, dan implementasi program biodiesel B50 yang menyerap pasokan CPO domestik.

Tanggapan Menteri Perdagangan

Menanggapi isu kelangkaan, Menteri Perdagangan Budi Santoso membantah adanya kelangkaan minyak goreng secara nasional.

Menurutnya, stok Minyakita berkaitan dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan volume ekspor.

Budi menilai masalah yang terjadi saat ini lebih kepada persepsi masyarakat yang menjadikan Minyakita sebagai indikator tunggal harga minyak goreng.

“Nggak ada (langka), cek aja di lapangan. Ya mungkin Minyakita-nya, cuma minyak yang lain banyak yang sebanding dengan Minyakita juga banyak,” tegas Budi, Kamis (16/4/2026).

Advertisement