Tren

Harga Pertamax Turbo Tembus Rp 19.400 Bisa Picu Fenomena “Turun Kelas” ke Pertamax, Ini Kata Pakar

Advertisement

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Turbo hingga menyentuh Rp 19.400 per liter berpotensi memicu fenomena “turun kelas” di kalangan konsumen. Sebagian pemilik kendaraan diprediksi akan beralih ke jenis BBM yang lebih terjangkau, seperti Pertamax, terutama jika spesifikasi kendaraan mereka memungkinkan.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menilai potensi perpindahan konsumen dari Pertamax Turbo ke Pertamax sangat besar, asalkan kendaraan yang digunakan mendukung. “Potensi perpindahan konsumen dari Pertamax Turbo ke Pertamax sangat besar, terutama jika mobil konsumen tersebut memungkinkan,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Perpindahan Tergantung Spesifikasi Kendaraan

Namun, peralihan ini tidak akan terjadi secara merata di semua segmen pengguna kendaraan. Eddy Junarsin menjelaskan bahwa terdapat kendaraan tertentu yang secara teknis direkomendasikan menggunakan BBM dengan oktan tinggi seperti Pertamax Turbo. Untuk kendaraan jenis ini, beralih ke jenis BBM yang lebih rendah tidak dimungkinkan.

“Ada mobil-mobil tertentu yang mesinnya direkomendasikan untuk hanya menggunakan Pertamax Turbo sehingga mereka tidak bisa berpindah ke Pertamax,” jelasnya. Kendati demikian, bagi kendaraan yang masih kompatibel, perpindahan dinilai hampir pasti terjadi sebagai langkah efisiensi pengeluaran.

“Namun untuk konsumen yang mobilnya bisa menggunakan Pertamax, maka kemungkinan besar dia akan pindah agar lebih hemat biaya,” kata Eddy.

Senada dengan Eddy, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa kecenderungan perpindahan konsumsi sangat bergantung pada jenis kendaraan yang digunakan. “Kalau mobilnya bukan high-end seperti Mercedes atau BMW mungkin tidak apa-apa, bisa disesuaikan. Tapi kalau mobilnya high-end tidak bisa, nanti performanya jadi tidak nyaman. Digas ada lag,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com secara terpisah, Senin (20/4/2026).

Pemilik Mobil Kelas Atas Dianggap Tak Terlalu Sensitif

Tri Yuswidjajanto menambahkan, pemilik kendaraan kelas atas umumnya tidak terlalu sensitif terhadap kenaikan harga BBM nonsubsidi. “Kalau sudah membeli mobil high-end, mestinya tidak sensitif terhadap harga bahan bakar. Mereka pasti tetap pakai itu daripada performa mobilnya terganggu,” katanya.

Advertisement

Meskipun demikian, untuk kendaraan yang masih kompatibel, perpindahan ke Pertamax dinilai cukup mungkin terjadi. “Yang mobilnya bisa menyesuaikan dengan Pertamax, ya mungkin pindah ke Pertamax, karena Pertamax tidak naik,” jelasnya.

Namun, perpindahan ke BBM subsidi seperti Pertalite dinilai semakin sulit. Hal ini seiring dengan kebijakan pembatasan penggunaan melalui sistem barcode.

“Sekarang sebagian barcode dibekukan. Pertamina mulai menyeleksi kendaraan yang tidak seharusnya membeli Pertalite, sehingga pengguna dipaksa membeli BBM nonsubsidi,” ungkapnya. Ia mencontohkan masih adanya kendaraan premium seperti Alphard yang sebelumnya menggunakan barcode untuk mengisi Pertalite. “Ke depan, itu akan dikurangi,” katanya.

Antisipasi Lonjakan Permintaan Pertamax

Lebih lanjut, Tri Yuswidjajanto mengungkapkan, jika tren perpindahan ke Pertamax terjadi secara luas, Pertamina perlu mengantisipasi lonjakan permintaan. Meski begitu, ia menekankan bahwa pergeseran tersebut tetap terbatas pada segmen tertentu.

Tri juga menyoroti kebijakan pemerintah yang hanya menaikkan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite yang kontribusi pasarnya relatif kecil. “Karena kontribusinya kecil, Pertamina tetap harus menanggung beban besar dari BBM subsidi yang tidak dinaikkan,” ujarnya.

Kondisi ini membuat Pertamina harus menerapkan skema subsidi silang. “Sebagian keuntungan dipakai untuk menutup subsidi. Artinya, laba Pertamina berpotensi turun pada 2026, tidak setinggi 2025,” katanya. Menurutnya, jika tekanan fiskal terus berlanjut, bukan tidak mungkin pemerintah akan mempertimbangkan penyesuaian harga BBM subsidi ke depan, meskipun saat ini masih ditahan.

Advertisement