Lestari

Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB

Advertisement

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan gas bumi turut mendorong permintaan energi baru terbarukan (EBT) sebagai solusi krisis iklim. Namun, efektivitas EBT kini justru tengah diuji oleh dampak krisis iklim itu sendiri.

Kenaikan suhu global akibat krisis iklim memperburuk berbagai fenomena, mulai dari gelombang panas yang lebih intens, curah hujan yang semakin deras, hingga cuaca ekstrem lainnya. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko bagi kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem. Krisis iklim menjadi tantangan operasional dan strategis terberat yang harus dihadapi sistem EBT.

“Meskipun sumber energi terbarukan sangat penting untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim, sumber energi tersebut pada dasarnya bergantung pada kondisi lingkungan,” ujar seorang investor energi terbarukan, Thomas Balogun. Keandalan, efisiensi, dan ketahanan sistem EBT terdorong hingga titik kritis seiring semakin tidak dapat diprediksinya pola cuaca akibat krisis iklim.

Balogun berpendapat bahwa seiring dengan semakin tidak menentunya pola cuaca akibat gas-gas penangkap panas yang terus meningkatkan suhu, keandalan, efisiensi, dan ketahanan transisi energi hijau tengah didorong hingga titik kritis.

Paradoks Tenaga Surya

Tahun 2026 diprediksi menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, dan potensi fenomena El Nino dapat memperburuk situasi. Kendati kenaikan suhu tampaknya dapat menjadi dorongan bagi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kenyataannya panas yang intens justru dapat mengurangi efisiensi sekaligus meningkatkan beban pada jaringan listrik.

“Ada kesalahpahaman umum bahwa semakin banyak sinar matahari selalu berarti semakin banyak energi,” tutur pendiri platform analisis data cuaca dan tren volatilitas iklim, wfy24.com, Ioanna Vergini. Sel fotovoltaik (PV) pada panel surya merupakan semikonduktor. Seperti halnya perangkat elektronik lainnya, efisiensi semikonduktor menurun seiring kenaikan suhu. Untuk setiap kenaikan suhu satu derajat di atas 25 derajat Celcius, efisiensi panel surya turun sekitar 0,4 hingga 0,5 persen.

Fenomena ini telah teramati di Spanyol dan Yunani, di mana PLTS mengalami penurunan output secara signifikan saat permintaan pendingin ruangan memuncak selama gelombang panas ekstrem musim lalu. Ketika suhu permukaan panel surya mencapai 65 derajat Celcius, output mengalami penurunan kapasitas teoritis sebesar hampir 20 persen.

Turbin Angin Melebihi Titik Optimal

Inggris sempat memecahkan rekor energi baru terbarukan pada tahun 2026, berkat kondisi berangin kencang yang sangat ideal untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Pada akhir Maret 2026, PLTB di Inggris menghasilkan listrik tertinggi dalam sejarah, mencapai sekitar 23.880 megawatt, daya yang cukup untuk memasok sekitar 23 juta rumah.

Advertisement

Namun, ketika kecepatan angin menjadi terlalu kencang, jaringan listrik sering kali dibanjiri energi hijau melebihi kebutuhan sebenarnya. Menurut perusahaan EBT di Inggris, Octopus Energy, kecepatan angin yang terlalu kencang dapat menciptakan kemacetan lalu lintas pada jaringan listrik dan menghambat penyalurannya ke konsumen.

“Turbin angin memiliki titik optimal. Ketika kecepatan angin melebihi sekitar 90 km/jam, turbin memasuki ‘mode bertahan hidup’ dan menghentikan putaran bilahnya untuk mencegah kegagalan struktural,” ucap Vergini. Selama Badai Ciarán pada akhir tahun 2023, ladang angin lepas pantai berkapasitas tinggi di Inggris dan Prancis terpaksa dimatikan, meskipun kondisi angin secara teori sangat ideal.

Pasokan Tak Terprediksi

Dampak krisis iklim juga terasa pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Suhu yang lebih hangat menyebabkan penurunan cadangan salju, seperti yang terjadi di Norwegia selama musim dingin yang hangat dan kering. Cadangan salju di negara tersebut turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir, menciptakan defisit sekitar 25 TWh. Jumlah energi ini cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 2,5 juta rumah selama setahun, atau hampir seperlima dari total produksi tenaga air Norwegia tahun lalu.

“Tebalnya salju di Norwegia pada musim dingin lalu adalah contoh yang baik dari pergeseran yang lebih luas: pembangkit listrik tenaga air di Eropa menjadi semakin tidak stabil. Pada saat yang sama, pola curah hujan bergeser. Sebagian besar Eropa mungkin akan mengalami peningkatan total curah hujan, tetapi sebagian besar turun sebagai hujan, bukan salju,” ujar Alex Truby dari Upstream Tech, sebuah model peramalan berbasis AI.

Setiap kenaikan suhu udara sebesar 1 derajat Celcius, atmosfer dapat menampung sekitar tujuh persen lebih banyak uap air. Hal ini menyebabkan curah hujan semakin deras dan intensif. Salju berperan penting dalam menyimpan air sepanjang musim dingin dan melepaskannya secara bertahap selama musim semi dan musim panas, sehingga menyediakan pasokan air yang konsisten dan dapat diprediksi untuk menghasilkan listrik.

Dalam menghadapi krisis iklim, PLTA perlu beradaptasi dengan kondisi yang berubah. Adaptasi tersebut mencakup peningkatan kualitas prakiraan musiman dan jangka pendek, penambahan kapasitas penyimpanan, serta perbaikan jaringan listrik. Perbaikan jaringan listrik akan memfasilitasi pemindahan EBT antar wilayah untuk membantu mengurangi variabilitas pasokan.

Advertisement