Petani di kawasan Subak Jatiluwih, Tabanan, Bali, kini beralih menggunakan teknologi drone untuk memupuk tanaman padi, sebuah inovasi yang diklaim mampu memangkas waktu kerja hingga lebih dari 90 persen.
Teknologi ini memungkinkan pemupukan satu hektare lahan sawah hanya dalam waktu sekitar 10 menit, jauh lebih singkat dibandingkan metode manual yang bisa memakan waktu 2 hingga 3 jam. “Kalau manual satu hektare bisa 2 sampai 3 jam. Dengan drone cukup sekitar 10 menit sudah selesai,” ungkap I Gede Made Ardana, Bidang Pengembangan DTW Jatiluwih, pada Rabu (22/4/2026).
Penggunaan drone tidak hanya efisien dari segi waktu, tetapi juga meringankan beban kerja para petani yang mengelola total lahan seluas 227 hektare. Ardana menambahkan bahwa sistem penyemprotan menggunakan drone memastikan pupuk tersebar lebih merata, bahkan di area yang sulit dijangkau. “Kalau manual itu kadang kurang merata karena lahannya luas dan berjauhan. Dengan drone, penyemprotannya bisa diatur dan hasilnya lebih merata,” jelasnya.
Dukungan Pertanian Organik
Inisiatif pemupukan menggunakan drone ini merupakan bagian dari upaya pengelola Subak Jatiluwih untuk mendukung sistem pertanian organik. Pupuk yang diaplikasikan adalah pupuk organik berbasis hormon yang kaya akan nutrisi esensial bagi tanah dan tanaman.
Teknologi ini telah diimplementasikan sejak awal 2025 dan digunakan secara rutin, meskipun pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kondisi cuaca. “Rutin dilakukan, tetapi memang ada kendala seperti angin kencang dan hujan,” ujar Ardana.
Peningkatan Produktivitas Panen
Selain efisiensi operasional, penerapan teknologi drone juga dilaporkan berkontribusi pada peningkatan produktivitas hasil panen. “Rata-rata hasilnya meningkat sekitar 15 sampai 20 persen dari sebelumnya,” kata Ardana.
Dalam praktiknya, satu hektare lahan membutuhkan sekitar 1,5 liter pupuk organik yang dicampur dengan 36 liter air. Campuran ini kemudian disemprotkan dari ketinggian 2 hingga 3 meter, mengikuti pola yang telah dipetakan sebelumnya.
Kendala Teknis dan Rencana Pengembangan
Meskipun demikian, penggunaan drone belum merambah seluruh area sawah di Jatiluwih. Beberapa kendala teknis, seperti keterbatasan lokasi pendaratan dan pengisian daya baterai, masih menjadi tantangan.
Drone yang saat ini digunakan merupakan bantuan dari Bank Indonesia pada tahun 2025 dan dioperasikan oleh tiga pilot khusus. Ke depan, pengelola Subak Jatiluwih berencana untuk menambah jumlah unit drone melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
“Apresiasi petani sangat bagus. Mereka merasa dimudahkan dengan drone,” tutup Ardana, menggarisbawahi respons positif dari para petani terhadap teknologi baru ini.






