JAKARTA, KOMPAS.com – Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (21/4/2026), investor asing justru tercatat melakukan pembelian bersih atau net buy pada sejumlah saham. Pelemahan IHSG ini terjadi pasca Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan rebalancing saham Indonesia untuk periode Mei 2026.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total net buy investor asing di seluruh pasar mencapai Rp 473,93 miliar. Rinciannya, sebesar Rp 243,21 miliar di pasar reguler dan Rp 230,72 miliar di pasar tunai dan negosiasi.
Aksi beli bersih oleh investor asing ini tampaknya terkonsentrasi pada saham-saham di luar kelompok big caps. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menjadi saham yang paling banyak diborong asing dengan net buy Rp 163,9 miliar. Posisi kedua ditempati oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan net buy Rp 129,5 miliar, disusul PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebesar Rp 113,2 miliar.
Saham-saham yang menjadi incaran investor asing ini menunjukkan pola penguatan yang cukup solid sepanjang perdagangan Selasa.
Analisis Pergerakan Saham Pilihan Asing
Saham SSMS ditutup menguat tipis 0,02 persen ke level 1.365. Secara intraday, pergerakan saham ini diawali dari area bawah di kisaran 1.300-1.310, kemudian perlahan naik dan berhasil stabil di atas 1.340 hingga penutupan.
Sementara itu, saham EMAS menunjukkan penguatan yang lebih agresif dengan kenaikan mencapai 7,47 persen ke posisi 9.350. Tren kenaikan saham ini terlihat konsisten sejak awal sesi, bahkan sempat menyentuh angka tertinggi di sekitar 9.500 sebelum mengalami sedikit konsolidasi.
Saham BNBR menjadi yang paling mencolok dengan lonjakan harga sebesar 11,65 persen, ditutup pada level 230. Pergerakan saham ini sempat sideways di awal perdagangan, namun kemudian mengalami lonjakan tajam hingga menyentuh area 240, sebelum akhirnya terkoreksi ringan dan kembali stabil di kisaran 230.
Kontras dengan Saham Big Caps
Berbanding terbalik dengan saham-saham yang diborong asing, saham-saham berkapitalisasi besar justru mengalami tekanan jual bersih atau net sell dari investor asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell terbesar senilai Rp 168,9 miliar. Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp 128,6 miliar, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 72,8 miliar.
Kondisi IHSG dan Aktivitas Perdagangan
Pada penutupan perdagangan Selasa, IHSG melemah 34,73 poin atau 0,46 persen ke level 7.559,38. Aktivitas perdagangan mencatat volume transaksi sebesar 43,55 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 18,01 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat lebih dari 2,7 juta kali transaksi.
Menariknya, jumlah saham yang menguat (386 saham) lebih banyak dibandingkan saham yang melemah (264 saham), sementara 168 saham bergerak stagnan.
Sentimen Pembekuan Rebalancing MSCI
Keputusan MSCI memperpanjang pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia pada Mei 2026 dilatarbelakangi oleh kajian dampak reformasi pasar modal terhadap aksesibilitas investasi. MSCI menyatakan akan mengeluarkan saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC).
Selain itu, MSCI juga akan menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen untuk menyesuaikan perhitungan free float. Namun, MSCI belum akan memasukkan sumber data baru hingga kajian atas reformasi pasar modal Indonesia selesai dilakukan.
MSCI mengungkapkan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas, sekaligus memberikan waktu untuk evaluasi lebih lanjut atas reformasi yang baru diumumkan. MSCI mengaku telah menerima berbagai laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Reformasi yang dilaporkan mencakup peningkatan transparansi pemegang saham di atas 1 persen, pendalaman klasifikasi investor, pengenalan kerangka HSC, hingga rencana peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen.
Meski demikian, MSCI tetap mempertahankan sikap hati-hati dengan menunda rebalancing saham Indonesia. Sejumlah kebijakan pembatasan pun masih diberlakukan, termasuk pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham, tidak menambahkan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak menaikkan klasifikasi saham ke segmen yang lebih besar.






