Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dihadang oleh sejumlah pedagang kaki lima (PKL) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Jalan Pedati, kawasan Suryakencana, pada Rabu (22/4/2026). Para pedagang meluapkan keluhan mereka, bahkan menanyakan apakah orang nomor satu di Kota Bogor itu memiliki perut atau tidak, menyinggung soal kebutuhan untuk makan.
Peristiwa itu terjadi saat Dedie bersama jajaran Pemerintah Kota Bogor menyusuri Jalan Pedati untuk meninjau kondisi kawasan tersebut terkait penertiban PKL. Di lokasi, pantauan Kompas.com mendapati para PKL tidak lagi berjualan di trotoar.
Saat rombongan wali kota berjalan menuju Jalan Lawang Saketeng, Dedie A Rachim tampak mendekati seorang PKL yang sedang duduk di trotoar tanpa menjajakan dagangannya. Percakapan pun terjalin.
“Lagi nunggu apa ibu?” tanya Dedie.
“Nunggu si bapak lewat, mau dagang sedikit kita perlu makan gitu tapi alhamdulillah udah ketemu sama bapak,” jawab ibu PKL tersebut.
Dedie kemudian mendalami percakapan dengan menanyakan jenis dagangan yang dijual serta lokasi penyimpanannya. “Mana cue, tongkolnya?” tanya Dedie.
“Simpen dulu di sana, kan gimana kalau punya perut gimana pak?” timpal ibu PKL itu, menyiratkan kebutuhan mendesak untuk berjualan.
Pernyataan tersebut tidak langsung ditanggapi oleh Dedie. Ia justru kembali melontarkan pertanyaan terkait niat pedagang untuk kembali berjualan di trotoar setelah dirinya pergi.
“Jadi urang indit, jualan deui? (jadi saya pergi jualan lagi?),” tanya Dedie dalam Bahasa Sunda.
PKL tersebut menegaskan akan tetap berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup. “Pasti, boga beuteung pan (punya perut kan). Bapak boga beuteung teu? (bapak punya perut enggak?). Gitu aja ya kaki lima dianggap ayam,” ujarnya dengan nada geram.
Dedie A Rachim hanya tersenyum menanggapi pernyataan itu dan melanjutkan pemantauan bersama jajaran Pemkot Bogor.
Seorang ibu PKL lainnya juga terlihat terus berbincang dengan Dedie sepanjang sidak, mulai dari Jalan Pedati hingga Jalan Lawang Saketeng.
Keluhan Pelanggan dan Solusi Pasar Jambu Dua
Saat dikonfirmasi oleh wartawan usai sidak, Dedie A Rachim menjelaskan bahwa perbincangan dengan para PKL tersebut didominasi oleh keluhan mengenai hilangnya pelanggan di kawasan Jalan Pedati setelah penertiban.
“Dia PKL, kita juga sudah ajak ya untuk punya kios di Jambu Dua dan beliau bersedia. Hanya memang tadi kendalanya apa, customer-nya kan belum pindah,” kata Dedie di Suryakencana, Rabu (22/4/2026).
Lebih lanjut, Dedie mengungkapkan bahwa para PKL meminta adanya kelonggaran akses angkutan umum untuk masuk ke dalam Pasar Jambu Dua. “Kenapa? Karena mungkin akses angkutan ya. Tadi beliau minta angkutannya coba diberikan kelonggaranlah untuk bisa masuk ke dalam pasar,” sambungnya.






