Money

Gantikan Tim Cook, John Ternus Dituntut Buktikan Strategi AI Apple

Advertisement

John Ternus, yang baru saja dipercaya menduduki kursi Chief Executive Officer (CEO) Apple, kini dihadapkan pada tugas berat untuk membuktikan kemampuan perusahaan dalam persaingan kecerdasan buatan (AI). Investor menuntut Apple menunjukkan strategi konkret untuk unggul di bidang ini, mengingat posisi Apple yang dinilai masih tertinggal dibandingkan raksasa teknologi lainnya.

Meskipun Tim Cook telah memimpin Apple dengan kesuksesan selama masa jabatannya, kepergiannya meninggalkan pertanyaan besar terkait arah strategis perusahaan di ranah AI. Cook, yang akan beralih menjadi Executive Chairman, telah mengumumkan transisi kepemimpinan ini pada April 2026, yang dijadwalkan efektif mulai 1 September 2026.

Pengangkatan Ternus sebagai CEO baru ini, sebagaimana diumumkan perusahaan, menandai perubahan besar dalam jajaran pimpinan perusahaan teknologi yang bernilai tinggi ini. Namun, di balik perubahan tersebut, Apple menghadapi berbagai tantangan, termasuk isu rantai pasokan yang semakin kompleks akibat ketegangan geopolitik dan lonjakan harga memori yang dipicu oleh tingginya permintaan pengembangan AI.

Tantangan Strategi AI Apple

Bagi Ternus, tantangan utama adalah mendorong Apple lebih dalam ke pengembangan AI. Selama ini, Apple cenderung mengadopsi strategi pengembangan AI yang tidak memerlukan investasi modal besar, berbeda dengan pendekatan yang diambil oleh Microsoft, Google, Amazon, dan Meta. Perusahaan-perusahaan tersebut diketahui berinvestasi ratusan miliar dolar AS per tahun untuk infrastruktur pusat data dan pengadaan chip AI yang mahal.

Menariknya, dalam pengembangan model dasar AI, Apple masih mengandalkan teknologi Gemini milik Google untuk mendukung sejumlah fitur AI-nya, termasuk peningkatan pada asisten virtual Siri yang dijadwalkan rilis akhir tahun ini. Pada tahun 2024, Apple telah meluncurkan Apple Intelligence, yang mencakup generator gambar, pengubah teks, kemampuan meringkas notifikasi, dan integrasi dengan ChatGPT dari OpenAI.

Meskipun respons konsumen terhadap Apple Intelligence beragam, penjualan iPhone tetap menunjukkan angka yang solid. Pengguna perangkat Apple kini memiliki akses ke berbagai opsi AI yang disediakan oleh perusahaan lain. Apple sendiri tampaknya sangat yakin bahwa dalam beberapa tahun mendatang, beban kerja komputasi AI akan banyak berjalan pada chip yang terintegrasi langsung di dalam ponsel.

Keyakinan ini didukung oleh fakta bahwa Apple telah mengintegrasikan kemampuan AI ke dalam perangkatnya sejak tahun 2017.

“Dengan memilih pemimpin perangkat keras seperti John Ternus, Apple mungkin memberi sinyal bahwa mereka masih percaya masa depan AI akan berjalan melalui perangkat yang terintegrasi erat, bukan hanya perangkat lunak,” kata seorang Asisten Profesor Manajemen Universitas Notre Dame, dikutip dari CNBC, Selasa (21/4/2026).

Advertisement

Proyeksi ini menggarisbawahi pandangan Apple yang mungkin masih akan memegang teguh gagasan soal masa depan AI yang terintegrasi dengan perangkat keras.

Dominasi iPhone dan Diversifikasi Layanan

Perlu dicatat, Apple masih meraup keuntungan signifikan dari penjualan iPhone. Hingga akhir 2025, pendapatan dari segmen iPhone dilaporkan meningkat 23 persen secara tahunan, mencapai 85,3 miliar dollar AS. Kenaikan ini ditopang oleh penjualan model terbaru, iPhone 17, yang dirilis pada September tahun lalu.

Perangkat keras yang didukung AI diprediksi akan menjadi arah perkembangan pasar, menggabungkan perangkat pribadi, robotika, komputasi spasial, dan inovasi lain yang belum terungkap. Apple sendiri sempat dikabarkan tengah mempercepat pengembangan perangkat elektronik dengan sentuhan AI, seperti kacamata pintar, liontin, hingga AirPods yang dilengkapi kamera.

Selain tantangan di ranah AI, John Ternus juga akan menghadapi pengembangan bisnis layanan Apple. Saat ini, perusahaan sangat bergantung pada pendapatan dari pengguna iPhone yang berlangganan layanan seperti AppleCare, iCloud, Apple TV+, dan penggunaan Apple Pay. Perusahaan juga berpotensi meraup keuntungan dari pembayaran langganan layanan AI generatif dan chatbot pihak ketiga, termasuk ChatGPT dan Claude.

Analis Forrester, Dipanjan Chatterjee, memperkirakan situasi ini akan penuh gejolak bagi Apple dalam beberapa tahun mendatang.

“Dalam beberapa tahun mendatang, situasi akan bergejolak bagi Apple karena telah terjadi begitu banyak perubahan dalam cara konsumen berinteraksi dengan teknologi, khususnya dengan AI generatif,” ujar Chatterjee.

Perubahan lanskap teknologi yang didorong oleh AI generatif ini menuntut Apple untuk terus beradaptasi dan berinovasi guna mempertahankan posisinya di pasar global.

Advertisement